by Endar Suhendar, M.Pd.

Dissociative Identity Disorder (DID): Ketika Lebih dari Satu Identitas Hidup dalam Satu Diri

Dissociative Identity Disorder (DID): Ketika Lebih dari Satu Identitas Hidup dalam Satu Diri

Dissociative Identity Disorder (DID), yang dulu disebut multiple personality disorder atau split personality disorder, merupakan salah satu gangguan disosiatif yang paling dikenal dalam psikologi klinis. DID adalah kondisi kesehatan mental yang ditandai oleh keberadaan dua atau lebih identitas atau keadaan kepribadian yang berbeda dalam satu individu, dan masing-masing identitas ini dapat memiliki pola berpikir, sejarah pribadi, emosi, serta cara bereaksi terhadap dunia yang berbeda satu sama lain.

Kondisi ini bisa sangat mengguncang kehidupan seseorang, karena ia tidak hanya melibatkan banyak identitas tetapi juga belum terintegrasinya pengalaman emosional, ingatan, dan kesadaran diri menjadi satu kesatuan yang utuh. Dalam banyak kasus, identitas-identitas yang berbeda ini bergantian “mengambil alih” kesadaran dan perilaku, sehingga individu mengalami perubahan dalam perilaku, cara berbicara, dan bahkan orientasi dirinya saat salah satu identitas muncul.

Apa Itu Dissociative Identity Disorder (DID)?

DID adalah salah satu bentuk gangguan disosiatif menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), buku panduan diagnostik yang digunakan profesional kesehatan mental secara internasional. Secara esensial, kondisi ini terjadi ketika fungsi psikologis seperti identitas, memori, dan persepsi terpecah sehingga tidak lagi terintegrasi seperti pada umumnya orang. Individu dengan DID memiliki lebih dari satu keadaan identitas yang relatif terpisah (sering disebut alters), dan sering kali identitas-identitas ini mengendalikan perilaku atau kesadaran pada waktu-waktu tertentu.

Istilah “split personality” sendiri bukan istilah klinis itu adalah istilah populer yang lebih banyak digunakan oleh masyarakat umum dan media, tetapi pada kenyataannya istilah yang benar dan digunakan secara profesional adalah Dissociative Identity Disorder. 

Gejala Utama DID: Berbagai Identitas dan Kehilangan Ingatan

Gejala yang paling khas dari DID adalah adanya dua atau lebih identitas yang berbeda dalam seorang individu, dan identitas-identitas ini diikuti oleh amnesia atau celah memori yang tidak dapat dijelaskan oleh lupa biasa. Misalnya, seseorang mungkin tidak dapat mengingat peristiwa tertentu yang terjadi ketika identitas lain sedang “mengambil alih”, atau bahkan mengalami ketidakmampuan mengingat bagian penting dari sejarah hidupnya sendiri.

Selain itu, individu dengan DID sering juga mengalami:

  • Perasaan terputus dari dirinya sendiri atau lingkungannya
  • Kesulitan mengingat masa lalu
  • Perubahan perilaku yang tampak tiba-tiba
  • Kesulitan menjalani kehidupan sosial atau pekerjaan
  • Perasaan kehilangan kendali atas tindakan diri sendiri

Manifestasi ini membuat DID bukan hanya sekedar fenomena “cerita fiksi” tentang banyak kepribadian, tetapi gangguan serius yang mengganggu fungsi kehidupan harian, hubungan interpersonal, dan pengalaman emosional seseorang.

Apa Penyebab DID? Hubungan Trauma dan Disosiasi

Walaupun DSM-5 tidak mengharuskan adanya riwayat trauma sebagai kriteria diagnostik, sejumlah besar penelitian klinis menunjukkan bahwa DID hampir selalu terkait dengan pengalaman traumatis berat dan berkepanjangan pada masa kanak-kanak, seperti kekerasan fisik, seksual, emosional, atau pengabaian yang ekstrem.

Trauma yang dialami pada usia dini dapat menyebabkan perubahan jangka panjang pada cara otak memproses memori, emosi, dan identitas. Disosiasi, yakni pemisahan fungsi psikologis seperti memori dan identitas, menjadi cara yang digunakan oleh pikiran untuk “melindungi” diri dari rasa sakit yang terlalu besar untuk diproses sekaligus. Dengan kata lain, ketika integrasi pengalaman menjadi terlalu berat, pikiran memilih untuk memecah pengalaman-pengalaman ini menjadi bagian-bagian yang terpisah itulah dasar terbentuknya identitas-identitas berbeda pada DID

DID dan Gangguan Lain: Perbedaan dan Komorbiditas

DID seringkali terjadi bersamaan dengan kondisi kesehatan mental lain, seperti post-traumatic stress disorder (PTSD), depresi berat, dan borderline personality disorder, karena semuanya memiliki hubungan dengan pengalaman traumatis di masa lalu dan disosiasi sebagian pengalaman diri.

Salah satu tantangan terbesar dalam diagnosis DID adalah gejalanya yang mirip dengan gangguan lain, terutama kondisi seperti skizofrenia ketika terjadi gangguan persepsi atau delusi, atau gangguan mood ketika perubahan emosi terasa ekstrem. Karena itu, DID sering salah didiagnosis atau terlambat teridentifikasi tanpa pemeriksaan profesional yang teliti.

Bagaimana Cara Mendiagnosis DID?

Diagnosis DID dilakukan oleh profesional kesehatan mental berdasarkan kriteria DSM-5. Beberapa komponen utama yang diperiksa meliputi:

  • Adanya dua atau lebih identitas yang berbeda
  • Celah memori yang signifikan mengenai kehidupan sehari-hari atau riwayat pribadi
  • Gangguan dalam fungsi kehidupan sosial atau pekerjaan
  • Gejala yang tidak diakibatkan oleh penggunaan zat atau kondisi medis lain

Proses diagnosis biasanya mencakup wawancara mendalam untuk mengevaluasi riwayat gejala, pemeriksaan riwayat trauma, serta pengamatan perilaku dari waktu ke waktu.

Penanganan dan Perawatan: Terapi sebagai Fokus Utama

Tidak ada obat yang secara khusus “menghilangkan” DID. Namun, berbagai pendekatan terapi psikologis telah terbukti membantu individu dengan DID untuk mengelola gejala, memproses trauma yang mendasarinya, dan memperkuat identitas diri yang lebih terintegrasi.

Beberapa pendekatan yang umum digunakan meliputi:

  • Psikoterapi individual jangka panjang untuk memproses pengalaman trauma dan mengurangi disosiasi
  • Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk membantu mengubah pola pikir yang maladaptif
  • Hipnosis tertentu dalam konteks terapi yang diawasi profesional
  • Obat-obatan untuk menangani gejala penyerta seperti depresi atau kecemasan, meskipun tidak ada obat spesifik untuk DID itu sendiri

Selain itu, strategi pengelolaan diri seperti latihan grounding, mindfulness, dan dukungan sosial dari keluarga atau kelompok suportif sering digunakan untuk membantu individu meningkatkan kualitas hidup mereka.

Risiko Bunuh Diri dan Pentingnya Dukungan

Salah satu fakta penting yang perlu dipahami adalah bahwa individu dengan DID memiliki risiko lebih tinggi mengalami ide atau percobaan bunuh diri dibandingkan populasi umum, yang sebagian besar berkaitan dengan trauma masa lalu dan kesulitan integrasi identitas.

Oleh karena itu, penanganan DID bukan hanya tentang mengatasi identitas ganda, tetapi juga melibatkan dukungan emosional yang konsisten, pemantauan terhadap risiko keselamatan, serta kerja sama erat antara terapis, klien, dan sistem sosial individu tersebut.

REFERENSI 

Christiansen, Sherry. Dissociative Identity Disorder (Multiple or Split Personality). (2025)

National Alliance on Mental Illness. Dissociative disorders. 

Bremner JD, Wittbrodt MT. Stress, the brain, and trauma spectrum disorders. Int Rev Neurobiol. 2020;152:1-22. doi:10.1016/bs.irn.2020.01.004

American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. Fifth Edition. American Psychiatric Association; 2013. doi:10.1176/appi.books.9780890425596

Saxena M, Tote S, Sapkale B. Multiple personality disorder or dissociative identity disorder: etiology, diagnosis, and management. Cureus. 2023 Nov 19;15(11):e49057. doi:10.7759/cureus.49057

Brand BL, Sar V, Stavropoulos P, Krüger C, Korzekwa M, Martínez-Taboas A, et al. Separating fact from fiction: an empirical examination of six myths about dissociative identity disorder. Harv Rev Psychiatry. 2016 Jul-Aug;24(4):257-70. doi:10.1097/HRP.0000000000000100

American Psychiatric Association. What are dissociative disorders?. (2024)

Mind. Dissociation and dissociative disorders. (2023)