by Endar Suhendar, M.Pd.

OCD vs. OCPD: Apa Bedanya?

OCD vs. OCPD: Apa Bedanya?

Istilah OCD dan OCPD sering digunakan secara bergantian dalam percakapan sehari-hari, padahal keduanya merujuk pada kondisi psikologis yang berbeda. Kesamaan nama dan adanya unsur keteraturan atau perfeksionisme membuat banyak orang mengira OCD dan OCPD adalah hal yang sama. Padahal, dari sudut pandang klinis, keduanya memiliki dasar psikologis, pengalaman subjektif, dan dampak kehidupan yang tidak sama.

Memahami perbedaan ini penting agar individu mendapatkan penanganan yang tepat, sekaligus mengurangi stigma atau pelabelan yang keliru terhadap perilaku tertentu.

Obsessive-Compulsive Disorder (OCD)

Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) adalah gangguan kesehatan mental yang ditandai oleh dua komponen utama, yaitu obsesi dan kompulsi, yang saling berkaitan dan memperkuat satu sama lain.

Obsesi merupakan pikiran, dorongan, atau gambaran mental yang muncul secara berulang dan tidak diinginkan. Pikiran ini sering kali bertentangan dengan nilai atau keinginan individu, sehingga memicu kecemasan, rasa takut, atau rasa bersalah yang intens. Contohnya meliputi ketakutan berlebihan terhadap kuman, pikiran menyakiti orang lain meskipun tidak ingin melakukannya, atau keraguan terus-menerus terhadap keamanan dan keselamatan.

Sebagai respons terhadap obsesi tersebut, individu melakukan kompulsi, yaitu perilaku atau tindakan mental yang diulang-ulang untuk meredakan kecemasan. Kompulsi bisa berupa tindakan fisik seperti mencuci tangan, memeriksa kunci pintu, atau merapikan barang secara ritual, maupun tindakan mental seperti menghitung atau mengulang kata tertentu dalam pikiran.

Meskipun kompulsi dapat memberikan rasa lega sementara, efek ini hanya bersifat singkat dan justru memperkuat siklus OCD. Sebagian besar penderita OCD menyadari bahwa pikiran dan perilaku mereka berlebihan atau tidak rasional, namun merasa sulit untuk menghentikannya tanpa bantuan profesional.

Obsessive-Compulsive Personality Disorder (OCPD)

Berbeda dengan OCD, Obsessive-Compulsive Personality Disorder (OCPD) termasuk dalam kategori gangguan kepribadian. Kondisi ini ditandai oleh pola berpikir dan berperilaku yang kaku, menetap, dan muncul dalam berbagai situasi kehidupan.

Individu dengan OCPD umumnya menunjukkan:

  • Perfeksionisme yang ekstrem
  • Fokus berlebihan pada aturan, detail, dan keteraturan
  • Kebutuhan kuat untuk mengontrol situasi dan lingkungan
  • Kesulitan mendelegasikan tugas karena merasa orang lain tidak akan melakukannya dengan “benar”

Hal yang membedakan OCPD dari OCD adalah tidak adanya obsesi yang mengganggu secara intens seperti pada OCD. Individu dengan OCPD biasanya tidak merasa terganggu oleh perilakunya sendiri. Sebaliknya, mereka sering menganggap standar tinggi dan kontrol yang kuat sebagai hal positif atau sebagai bagian dari identitas diri.

Akibatnya, distres emosional pada OCPD sering kali lebih dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya, seperti pasangan, keluarga, atau rekan kerja, dibandingkan oleh individu itu sendiri.

Perbedaan Utama OCD dan OCPD

1. Sifat Gejala

  • OCD: Gejala bersifat intrusif, tidak diinginkan, dan memicu kecemasan.
  • OCPD: Gejala merupakan bagian dari pola kepribadian yang menetap dan dianggap wajar oleh individu.
     

2. Kesadaran dan Insight

  • OCD: Individu biasanya memiliki insight yang baik dan menyadari adanya masalah.
  • OCPD: Insight seringkali rendah; perilaku dianggap benar dan sulit diubah.
     

3. Fleksibilitas Perilaku

  • OCD: Perilaku dilakukan untuk meredakan kecemasan dan dapat berubah tergantung situasi.
  • OCPD: Pola perilaku cenderung kaku, konsisten, dan tidak fleksibel.
     

4. Dampak Kehidupan Sehari-hari

  • OCD: Mengganggu fungsi sehari-hari karena menyita waktu dan energi secara signifikan.
  • OCPD: Dapat terlihat “fungsional” atau produktif, tetapi sering menimbulkan konflik interpersonal.

Apakah OCD dan OCPD Bisa Terjadi Bersamaan?

Ya. Seseorang dapat mengalami OCD dan OCPD secara bersamaan. Dalam kondisi ini, individu memiliki obsesi dan kompulsi khas OCD, sekaligus pola kepribadian perfeksionis dan kaku yang menetap. Kombinasi ini dapat memperberat gangguan fungsi dan membuat penanganan menjadi lebih kompleks.

Pendekatan Penanganan

Penanganan OCD

OCD umumnya ditangani dengan:

  • Terapi Perilaku Kognitif (CBT), khususnya Exposure and Response Prevention (ERP)
  • Obat antidepresan, terutama kelompok SSRI
     

Pendekatan ini bertujuan mengurangi intensitas obsesi, menghentikan siklus kompulsi, dan menurunkan kecemasan.

Penanganan OCPD

Penanganan OCPD lebih berfokus pada:

  • Psikoterapi jangka panjang, untuk meningkatkan fleksibilitas berpikir
  • Mengembangkan kesadaran diri terhadap dampak perilaku terhadap orang lain

Obat dapat digunakan, tetapi bukan intervensi utama dan tidak selalu diperlukan.

Penutup

Meskipun memiliki nama yang mirip, OCD dan OCPD adalah dua kondisi yang berbeda secara mendasar. OCD berkaitan dengan kecemasan akibat pikiran intrusif dan perilaku kompulsif, sementara OCPD lebih berkaitan dengan pola kepribadian perfeksionis dan kebutuhan kontrol yang menetap.

Pemahaman yang tepat mengenai perbedaan ini dapat membantu individu, keluarga, maupun tenaga profesional untuk memberikan dukungan dan intervensi yang lebih sesuai, serta menghindari kesalahpahaman dalam memaknai perilaku sehari-hari.

REFERENSI

Brooten-Brooks, Michelle. OCPD vs. OCD: What Are the Differences?. (2025)

American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. 5th ed. Washington D.C.; 2013. doi: 10.1176/appi.books.9780890425596

Rowland T, Kumar Jainer A, Panchal R. Living with obsessional personality. BJPsych Bull. 2017;41(6):366-367. doi:10.1192/pb.41.6.366a

International OCD Foundation. What causes OCD?

Sinopoli V, Burton C, Kronenberg S, Arnold P. A review of the role of serotonin system genes in obsessive-compulsive disorder. Neuroscience & Biobehavioral Reviews. 2017;80:372-381. doi:0.1016/j.neubiorev.2017.05.029

Pauls, DL. The genetics of obsessive-compulsive disorder: a review. Dialogues Clin Neurosci. 2010;12(2):149-163. doi:10.31887/DCNS.2010.12.2/dpauls