by Endar Suhendar, M.Pd.

Reactive Attachment Disorder (RAD): Peran Pola Asuh dalam Membentuk dan Memulihkan Reactive Attachment Disorder Anak

Reactive Attachment Disorder (RAD): Peran Pola Asuh dalam Membentuk dan Memulihkan Reactive Attachment Disorder Anak

Hubungan antara anak dan pengasuh merupakan pondasi utama dalam perkembangan psikologis. Melalui interaksi sehari-hari seperti dipeluk saat menangis, ditenangkan saat takut, atau didengarkan saat bercerita anak belajar bahwa dunia adalah tempat yang aman.

Namun, tidak semua anak memiliki pengalaman tersebut. Pada sebagian anak, kebutuhan emosional tidak terpenuhi secara konsisten, sehingga membentuk pola hubungan yang tidak aman. Dalam kondisi tertentu, hal ini dapat berkembang menjadi Reactive Attachment Disorder (RAD).

RAD tidak muncul secara tiba-tiba. Ia terbentuk melalui proses panjang dalam interaksi antara anak dan lingkungan pengasuhnya.

Bagaimana Pola Asuh Membentuk Kelekatan?

Menurut teori yang dikembangkan oleh John Bowlby, kelekatan terbentuk melalui pengalaman berulang antara anak dan caregiver.

Ketika pengasuh:

  • Responsif terhadap kebutuhan anak
  • Konsisten dalam memberikan perhatian
  • Hadir secara emosional

Maka anak akan mengembangkan rasa aman (secure attachment).

Sebaliknya, jika pengasuh:

  • Tidak responsif
  • Tidak konsisten
  • Mengabaikan kebutuhan emosional

Anak dapat mengalami gangguan dalam sistem kelekatan, yang dalam kondisi ekstrem dapat berkembang menjadi RAD.

Pola Asuh Berisiko Tinggi terhadap RAD

Beberapa kondisi pengasuhan yang berisiko memicu RAD antara lain:

1. Pengabaian Emosional (Emotional Neglect)

Anak tidak mendapatkan respons terhadap kebutuhan emosionalnya, seperti:

  • Tidak ditenangkan saat menangis
  • Tidak diberikan perhatian saat membutuhkan

2. Perubahan Pengasuh yang Berulang

Anak yang berpindah-pindah pengasuh (misalnya di panti asuhan) kesulitan membangun keterikatan yang stabil.

3. Pengasuhan yang Tidak Konsisten

Kadang responsif, kadang mengabaikan, sehingga anak tidak bisa memprediksi respons pengasuh

4. Kekerasan atau Trauma dalam Relasi

Pengasuh yang seharusnya menjadi sumber aman justru menjadi sumber ancaman.

Bagaimana Anak Beradaptasi?

Anak tidak pasif dalam situasi ini. Mereka berusaha beradaptasi dengan cara yang mereka bisa.

Beberapa bentuk adaptasi yang muncul:

  • Tidak lagi mencari bantuan
  • Menekan ekspresi emosi
  • Menghindari kedekatan
  • Menjadi “terlalu mandiri”

Perilaku ini sering disalah artikan sebagai kekuatan, padahal sebenarnya merupakan bentuk perlindungan diri.

Lingkungan Tidak Selalu Menyadari

Salah satu tantangan dalam RAD adalah lingkungan sering tidak menyadari bahwa masalah utamanya adalah relasi.

Beberapa kesalahan umum:

  • Fokus pada perilaku, bukan penyebab
  • Memberikan hukuman tanpa memahami konteks
  • Menganggap anak “tidak butuh perhatian”

Padahal, yang dibutuhkan anak justru adalah pengalaman relasi yang berbeda dari sebelumnya.

Bisakah Pola Kelekatan Diperbaiki?

Kabar baiknya, kelekatan bukan sesuatu yang sepenuhnya “tetap”. Dengan pengalaman baru, pola ini dapat berubah.

Hal ini berkaitan dengan kemampuan otak untuk beradaptasi (neuroplasticity).

Anak yang sebelumnya mengalami RAD dapat mulai belajar:

  • Mempercayai orang lain
  • Merasakan keamanan
  • Mengekspresikan emosi

Namun, proses ini membutuhkan waktu dan konsistensi.

Peran Pengasuh dalam Proses Pemulihan

Pemulihan RAD sangat bergantung pada kualitas hubungan yang dibangun setelahnya.

1. Konsistensi adalah Kunci

Anak membutuhkan respons yang dapat diprediksi dan stabil.

2. Responsif terhadap Emosi

Bukan hanya kebutuhan fisik, tetapi juga kebutuhan emosional.

3. Kesabaran dalam Proses

Anak mungkin tidak langsung merespons atau percaya.

4. Menciptakan Rasa Aman

Lingkungan harus menjadi tempat yang tidak mengancam.

Pendekatan Trauma-Informed Parenting

Pendekatan ini menekankan bahwa perilaku anak adalah hasil dari pengalaman, bukan sekadar pilihan.

Prinsip utamanya:

  • Melihat perilaku sebagai bentuk komunikasi
  • Mengutamakan empati dibanding hukuman
  • Membangun koneksi sebelum koreksi

Pendekatan ini terbukti lebih efektif dalam membantu anak dengan gangguan kelekatan.

Penutup

Reactive Attachment Disorder bukan hanya tentang anak yang “tidak dekat” dengan orang lain, tetapi tentang pengalaman relasi yang tidak pernah terasa aman sejak awal.

Pola asuh memiliki peran besar, baik dalam terbentuknya maupun dalam pemulihan kondisi ini. Dengan lingkungan yang tepat, anak dapat belajar ulang bahwa hubungan tidak selalu menyakitkan.

Karena pada akhirnya, setiap anak memiliki kebutuhan yang sama:
untuk merasa aman, diterima, dan dicintai.

Dan melalui hubungan yang konsisten, kebutuhan itu tetap bisa dipenuhi meskipun terlambat.

Referensi

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed.).
Bowlby, J. (1988). A Secure Base.
Zeanah, C. H., & Gleason, M. M. (2015). Attachment disorders. Journal of Child Psychology and Psychiatry.
Dozier, M., et al. (2014). Attachment and biobehavioral catch-up. Development and Psychopathology.
Perry, B. D. (2006). The Boy Who Was Raised as a Dog.