by Endar Suhendar, M.Pd.

Bullying di Sekolah. Apa yang Harus Dilakukan Jika Kamu Melihat atau Mengalaminya?

Senggolan "tidak sengaja" di koridor yang terasa terlalu keras. Bisikan dan tawa kecil saat kamu lewat. Notifikasi dari grup WhatsApp yang tiba-tiba berhenti saat kamu bergabung. Atau panggilan nama yang menyakitkan, yang mereka sebut "cuma bercanda".

Jika salah satu skenario ini terasa familier, kamu tahu perasaan itu. Perut yang melilit, kepala yang menunduk, dan pertanyaan yang terus berputar di benak: "Kenapa aku? Apa salahku?"

Dengarkan baik-baik: Ini bukan salahmu.

Bullying atau perundungan adalah monster yang tumbuh subur dalam keheningan. Ia hidup dari rasa takut korban dan ketidakpedulian para penonton. Ia membisikkan kebohongan terbesar bahwa kamu sendirian dan tidak berdaya.

Artikel ini adalah palu untuk merobohkan dinding keheningan itu. Ini adalah peta daruratmu. Baik kamu yang sedang mengalaminya, atau kamu yang menyaksikannya dari pinggir lapangan, kekuatan untuk menghentikan monster ini ada di tanganmu

 

Jika KAMU yang Mengalaminya (Kamu Adalah Korban)

Rasanya mungkin berat, menakutkan, dan membuatmu ingin menghilang. Tapi sebelum kamu melakukan apa pun, tanamkan satu hal dalam pikiranmu: Kamu berharga, dan kamu berhak merasa aman. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa kamu ambil.

 

Langkah 1: Sadari Ini Bukan Salahmu (Ini adalah Mantra Utamamu)

Ulangi kalimat ini sampai kamu benar-benar memercayainya. Perundungan tidak pernah tentang kekuranganmu. Perundungan adalah tentang masalah si perundung—entah itu rasa tidak aman, kebutuhan untuk merasa berkuasa, atau masalah lain yang mereka proyeksikan padamu. Kamu bukan target yang lemah, kamu hanya target yang mereka pilih.

 

Langkah 2: Latih Respons "3K" (Kuasai Diri, Katakan, Kemudian Pergi)

Reaksi marah atau tangisan yang heboh seringkali adalah bahan bakar yang dicari oleh perundung. Mereka ingin melihatmu kehilangan kendali. Jangan berikan kepuasan itu. Latih respons "3K":

Kuasai Diri: Tarik napas dalam-dalam. Jaga ekspresi wajahmu setenang mungkin.

Katakan dengan Tegas: Gunakan suara yang datar, jelas, dan kuat. Tidak perlu berteriak. Cukup katakan, "Hentikan." atau "Aku tidak suka caramu itu."

Kemudian Pergi: Setelah mengatakan itu, segera berjalan menjauh ke tempat yang lebih ramai atau aman. Ini menunjukkan bahwa kamu tidak tertarik untuk terlibat dalam "drama" mereka.

 

Langkah 3: Kumpulkan Bukti (Jadilah Detektif untuk Dirimu Sendiri)

Di era digital, banyak perundungan meninggalkan jejak. Jika terjadi secara online, ambil tangkapan layar (screenshot) dari chat, komentar, atau postingan yang menyakitkan. Jika terjadi secara langsung, coba catat di buku harian atau notes di HP: apa yang terjadi, siapa pelakunya, kapan, dan di mana. Ini bukan untuk balas dendam, tapi sebagai bukti kuat saat kamu melapor.

 

Langkah 4: LAPORKAN! Pecahkan Dinding Keheningan Itu

Ini adalah langkah paling sulit, sekaligus paling penting. Melapor bukanlah tindakan seorang "cepuan" atau "tukang ngadu". Melapor adalah tindakan keberanian untuk membela hakmu merasa aman. Keheninganmu adalah izin bagi mereka untuk terus melakukannya.

Kepada Siapa? Mulailah dari orang dewasa yang paling kamu percaya. Bisa orang tuamu, wali kelas, guru Bimbingan Konseling (BK), atau guru favoritmu. Tunjukkan bukti yang sudah kamu kumpulkan.

Jika Laporan Pertama Tidak Ditanggapi? Jangan menyerah. Lapor ke orang dewasa lainnya. Terkadang, kamu butuh beberapa suara untuk didengar.

 

Jika KAMU yang Melihatnya (Kamu Adalah Bystander)

Kamu berdiri di koridor. Kamu melihat temanmu diejek. Kamu tahu itu salah, tapi kamu takut menjadi target berikutnya. Kamu memilih diam.

Pahami ini: dalam drama perundungan, diam bukanlah posisi netral. Diammu adalah tepuk tangan bagi si perundung. Diammu adalah pesan bagi korban bahwa "tidak ada yang peduli padamu". Kamu punya kekuatan besar untuk mengubah alur cerita.

 

Langkah 1: Jangan Ikut Tertawa, Jangan Merekam

Ini adalah aturan paling dasar. Tertawa atau merekam video kejadian itu sama saja dengan menuangkan bensin ke dalam api. Kamu secara instan beralih dari penonton menjadi bagian dari pelaku. Hentikan refleks itu.

 

Langkah 2: Alihkan Situasi (Cara Aman untuk Intervensi)

Kamu tidak perlu menjadi pahlawan super dan berkelahi. Cara paling efektif untuk menolong adalah dengan memecah fokus si perundung.

Ajak korban pergi: Datangi korban dan katakan, "Eh, dicariin Pak Guru tuh di kantor," atau "Yuk, ke kantin, aku traktir." Tarik dia keluar dari situasi itu.

Buat gangguan: Secara "tidak sengaja" jatuhkan bukumu di dekat mereka, atau tanyakan pertanyaan acak kepada si perundung untuk mengalihkan perhatiannya.

 

Langkah 3: Jadi Teman Setelah Kejadian

Ini adalah tindakan yang sangat kuat. Setelah situasi mereda, hampiri korban. Tanyakan, "Kamu nggak apa-apa?". Katakan, "Yang mereka lakukan tadi itu salah. Kamu nggak pantas diperlakukan seperti itu." Kalimat sederhana ini bisa menghancurkan perasaan terisolasi yang dirasakan korban. Ini menunjukkan bahwa mereka terlihat dan ada yang peduli.

 

Lankah 4: Laporkan Apa yang Kamu Lihat

Sama seperti korban, kamu juga punya tanggung jawab untuk melapor. Kamu adalah saksi. Laporanmu akan menguatkan laporan korban. Kamu memberikan suara bagi temanmu yang mungkin terlalu takut untuk berbicara. Ini adalah bentuk solidaritas yang paling nyata.

 

Kekuatan Itu Ada di Tangan Kita Semua

Perundungan akan layu dan mati jika ia tidak diberi makan dengan rasa takut dan keheningan. Ia akan musnah saat korban berani bersuara, dan saat para penonton berani melangkah maju untuk menjadi kawan.

Sekolah seharusnya menjadi tempat untuk belajar dan bertumbuh, bukan tempat untuk merasa takut. Dan menciptakan lingkungan itu adalah tanggung jawab kita bersama.

Jadi, baik kamu yang mengalami maupun yang melihat, pertanyaannya bukan lagi "apa yang harus dilakukan?", tapi "kapan kamu akan mulai melakukannya?".

Satu suara. Satu tindakan. Bisa mengubah segalanya.