by Endar Suhendar, M.Pd.

Cara Mendiagnosis Gangguan Bipolar

Cara Mendiagnosis Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar adalah penyakit mental serius yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang ekstrem, mulai dari periode depresi (suasana hati sangat rendah) hingga manik atau hipomania (suasana hati sangat tinggi). Hingga saat ini, tidak ada satu tes medis pasti untuk mendiagnosis gangguan bipolar. Karena itu, diagnosis dilakukan melalui evaluasi menyeluruh terhadap gejala, perilaku, dan riwayat kesehatan seseorang.

Dokter atau tenaga kesehatan mental biasanya akan menggali informasi tidak hanya dari pasien, tetapi juga dari orang-orang terdekat seperti keluarga atau pasangan. Hal ini penting karena perubahan suasana hati dan perilaku sering kali lebih mudah dikenali oleh lingkungan sekitar.

Siapa yang Dapat Didiagnosis Mengalami Gangguan Bipolar?

Gangguan bipolar sebelumnya dikenal dengan istilah depresi manik. Seseorang dengan kondisi ini dapat mengalami:

  • Gejala manik, seperti energi berlebihan, pikiran berpacu, rasa percaya diri berlebihan, dan perilaku impulsif.
  • Gejala depresi, seperti perasaan putus asa yang mendalam, energi rendah, gangguan tidur, dan kehilangan minat.

Jenis Gangguan Bipolar

Terdapat dua jenis utama gangguan bipolar:

1. Bipolar Tipe 1

Diagnosis bipolar tipe 1 ditegakkan jika seseorang mengalami setidaknya satu episode manik yang berlangsung minimal tujuh hari atau cukup berat sehingga memerlukan perawatan di rumah sakit. Episode depresi sering menyertai, tetapi tidak selalu menjadi syarat diagnosis.

2. Bipolar Tipe 2

Pada bipolar tipe 2, seseorang tidak mengalami manik penuh, melainkan hipomania, yaitu peningkatan suasana hati yang lebih ringan. Diagnosis ditegakkan jika terdapat setidaknya satu episode depresi dan satu episode hipomania. Perubahan suasana hati pada bipolar tipe 2 umumnya tidak seberat bipolar tipe 1.

Informasi yang Dibutuhkan untuk Diagnosis Gangguan Bipolar

Diagnosis gangguan bipolar paling sering dilakukan oleh profesional kesehatan mental seperti psikiater, psikolog, atau pekerja sosial klinis. Karena tidak ada tes pasti, mereka mengandalkan beberapa sumber informasi, antara lain:

  • Gejala yang dialami, terutama adanya episode manik atau hipomania
  • Riwayat kesehatan mental dan perilaku, karena gangguan bipolar bersifat siklik
  • Riwayat keluarga, mengingat gangguan bipolar memiliki komponen genetik

Mencatat perubahan suasana hati atau mood tracking dapat sangat membantu proses diagnosis. Catatan ini dapat mencakup periode depresi, manik, hipomania, rawat inap, atau peristiwa hidup besar seperti kehilangan pekerjaan atau putus sekolah.

Pemeriksaan Tambahan dalam Proses Diagnosis

Meskipun tidak ada tes khusus untuk memastikan bipolar, penyedia layanan kesehatan dapat melakukan beberapa pemeriksaan pendukung, seperti:

  • Evaluasi kesehatan mental menyeluruh
  • Tes darah, untuk menyingkirkan kondisi medis lain seperti hipertiroidisme
  • Pemeriksaan riwayat gangguan mental lain, seperti skizofrenia atau gangguan kecemasan

Langkah ini penting agar diagnosis tidak keliru dan pengobatan yang diberikan tepat sasaran.

Kondisi Lain yang Menyerupai Gangguan Bipolar

Beberapa kondisi medis dan gangguan mental dapat meniru gejala gangguan bipolar. Misalnya:

  • Hipertiroidisme, yang dapat menyebabkan kecemasan, gelisah, dan penurunan berat badan
  • Gangguan depresi mayor, yang sering menjadi diagnosis awal yang keliru
  • Skizofrenia, terutama jika pasien mengalami psikosis

Psikosis adalah kondisi ketika seseorang kehilangan kontak dengan realitas, seperti mendengar suara atau melihat hal-hal yang tidak dialami orang lain. Meskipun sering dikaitkan dengan skizofrenia, psikosis juga dapat terjadi pada gangguan bipolar.

Karena sekitar 40% penderita bipolar pernah salah didiagnosis, mencari pendapat kedua sangat dianjurkan jika terdapat keraguan terhadap diagnosis awal.

Perbedaan Gender dan Ras dalam Diagnosis Bipolar

Gangguan bipolar mempengaruhi pria dan wanita dengan tingkat yang relatif sama. Namun, terdapat perbedaan dalam pola gejala:

  • Wanita lebih sering mengalami episode depresi dibandingkan manik, sehingga bipolar pada wanita kerap disalahartikan sebagai depresi mayor.
  • Kelompok ras tertentu, khususnya orang kulit hitam, lebih sering salah didiagnosis sebagai skizofrenia. Hal ini dipengaruhi oleh perbedaan pola pelaporan gejala, seperti lebih jarang melaporkan manik dan lebih sering melaporkan gejala psikosis.

Faktor-faktor ini menunjukkan pentingnya pendekatan diagnosis yang sensitif terhadap konteks budaya dan sosial.

Apa yang Terjadi Setelah Diagnosis Gangguan Bipolar?

Setelah diagnosis ditegakkan, tim kesehatan akan menyusun rencana perawatan jangka panjang, karena gangguan bipolar merupakan kondisi kronis. Perawatan biasanya meliputi:

1. Pengobatan

Obat yang digunakan dapat meliputi:

  • Penstabil suasana hati
  • Antidepresan (dengan pengawasan ketat)
  • Obat antipsikotik, obat tidur, atau obat anti-kecemasan

Obat-obatan ini termasuk dalam kelompok psikotropik dan harus dikonsumsi sesuai anjuran dokter.

2. Terapi Psikologis

Beberapa jenis terapi yang terbukti efektif antara lain:

  • Cognitive behavioral therapy (CBT)
  • interpersonal and social rhythm therapy (IPSRT)
  • Terapi keluarga

3. Perubahan Gaya Hidup

Pola hidup sehat seperti olahraga teratur, pola makan seimbang, meditasi, dan tidur yang cukup berperan besar dalam mengelola gejala serta mencegah kekambuhan.

Pilihan Pengobatan Tambahan

Selain pengobatan dan terapi standar, terdapat beberapa pendekatan lain:

  • Electroconvulsive therapy (ECT)
    Menggunakan stimulasi listrik terkontrol pada otak dan dapat efektif pada kasus yang tidak merespons pengobatan lain.
  • Repetitive transcranial magnetic stimulation (rTMS)
    Menggunakan stimulasi magnetik dengan efek samping yang lebih ringan dibandingkan ECT.

Diagnosis gangguan bipolar memerlukan proses yang hati-hati dan komprehensif. Tidak adanya tes tunggal membuat keterbukaan pasien, dukungan keluarga, dan keahlian tenaga kesehatan menjadi kunci utama. Dengan diagnosis yang akurat dan perawatan yang tepat, penderita gangguan bipolar dapat menjalani hidup yang stabil dan bermakna.

Referensi 

Burch, K. How to Diagnose Bipolar Disorder. (2025)

National Alliance on Mental Illness. Bipolar disorder. (2017)

Stiles BM, Fish AF, Vandermause R, Malik AM. The compelling and persistent problem of bipolar disorder disguised as major depression disorder: An integrative review. J Am Psychiatr Nurses Assoc. 2018 doi: 10.1177/1078390318784360.

Li, K., Richards, E. & Goes, F.S. Racial differences in the major clinical symptom domains of bipolar disorder. Int J Bipolar Disord. 2023. doi.org: 10.1186/s40345-023-00299-3