by Admin

Ketika Ketakutan Kehilangan Membuat Hubungan Terasa Sangat Intens

“Jangan Tinggalkan Aku”: Ketika Ketakutan Kehilangan Membuat Hubungan Terasa Sangat Intens

Keyword: Borderline Personality Disorder, Fear of Abandonment, Ketakutan Ditinggalkan, Regulasi Emosi, Hubungan Romantis

Pernahkah seseorang merasa sangat takut kehilangan orang yang disayang sampai perubahan kecil dalam hubungan terasa seperti tanda bahwa dirinya akan ditinggalkan? Pesan yang lebih singkat dari biasanya, pasangan yang tiba-tiba lebih sibuk, atau sikap yang terasa sedikit berbeda dapat memunculkan kecemasan yang sangat besar.

Dalam kondisi tertentu, ketakutan terhadap penolakan dan kehilangan memang dapat dialami siapa saja. Namun, pada Borderline Personality Disorder (BPD), ketakutan tersebut dapat menjadi bagian dari pola yang lebih luas, bersama dengan emosi yang sangat intens, hubungan yang tidak stabil, impulsivitas, perubahan citra diri, dan kesulitan mengatur emosi.

Sebuah kajian mengenai BPD dan hubungan pasangan menunjukkan bahwa karakteristik BPD sangat berkaitan dengan kehidupan interpersonal. Sensitivitas terhadap penolakan, kemarahan yang sulit dikendalikan, impulsivitas, perubahan antara mengidealkan dan merendahkan diri sendiri maupun orang lain, serta perilaku destruktif dapat muncul terutama dalam hubungan yang dekat dan intim.

Mengenal Borderline Personality Disorder

Borderline Personality Disorder atau BPD merupakan gangguan mental yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengatur emosi, cara melihat dirinya sendiri, perilaku, dan hubungan dengan orang lain. Individu dengan BPD dapat mengalami perubahan emosi yang intens, hubungan interpersonal yang tidak stabil, impulsivitas, citra diri yang berubah-ubah, perasaan kosong yang menetap, serta sensitivitas yang tinggi terhadap penolakan atau kemungkinan ditinggalkan.

Salah satu karakteristik yang membuat BPD sering terlihat jelas dalam hubungan romantis adalah intensitas pengalaman interpersonalnya. Hubungan dapat terasa sangat dekat dan penuh kasih pada satu waktu, tetapi kemudian berubah menjadi konflik atau penolakan ketika individu merasa kecewa, terluka, atau tidak aman.

Hal ini bukan berarti seseorang dengan BPD tidak mampu mencintai atau mempertahankan hubungan. Justru, hubungan romantis dapat menjadi sangat penting bagi mereka. Masalahnya terletak pada bagaimana emosi, rasa aman, dan konflik dalam hubungan tersebut dialami dan diatur.

Penelitian yang dirangkum dalam artikel Bouchard dan Sabourin menunjukkan bahwa hubungan pasangan pada BPD memang cenderung menghadapi lebih banyak tantangan, tetapi gambaran tersebut tidak sepenuhnya negatif. Sebagian pasangan tetap dapat membangun hubungan yang relatif stabil dan memuaskan.

Karena itu, BPD tidak seharusnya dipahami sebagai label bahwa seseorang “toxic”, manipulatif, atau tidak mampu menjalani hubungan. Diagnosis merupakan persoalan klinis yang membutuhkan asesmen profesional, bukan sesuatu yang dapat ditentukan hanya berdasarkan perilaku seseorang dalam hubungan.

Fear of Abandonment dan Ketidakstabilan Hubungan

“Jangan tinggalkan aku.”

Kalimat tersebut dapat menggambarkan salah satu pengalaman emosional yang sering muncul pada individu dengan BPD: ketakutan yang sangat kuat terhadap kemungkinan ditolak, ditinggalkan, atau kehilangan orang yang dianggap penting.

Fear of abandonment atau ketakutan akan ditinggalkan bukan sekadar rasa tidak nyaman ketika pasangan sedang sibuk. Pada BPD, kemungkinan kehilangan hubungan dapat dirasakan sebagai ancaman emosional yang sangat besar. Bahkan, penolakan yang sebenarnya belum terjadi dapat dipersepsikan seolah-olah sudah terjadi.

Sensitivitas terhadap penolakan ini dapat memengaruhi cara seseorang merespons hubungan. Misalnya, perubahan kecil dalam komunikasi dapat memicu kecemasan, kemarahan, atau kebutuhan yang sangat kuat untuk mendapatkan kepastian dari pasangan. NHS juga menjelaskan bahwa ketakutan akan ditinggalkan dapat membuat seseorang melakukan berbagai upaya untuk mencegah perpisahan dan pada akhirnya membentuk pola hubungan yang sangat intens dan tidak stabil.

Kajian Bouchard dan Sabourin menemukan bahwa hubungan romantis pada BPD dapat menunjukkan pola putus dan kembali bersama secara berulang. Dalam salah satu penelitian terhadap 35 pasangan, hubungan berlangsung rata-rata hampir enam tahun, tetapi sebagian pasangan mengalami pola putus dan kembali bersama secara episodik, kira-kira setiap 6,5 bulan.

Di sinilah hubungan dapat terasa seperti tarik-ulur: “tolong jangan pergi” pada satu sisi, tetapi “aku tidak mau kamu dekat” pada sisi lainnya. Ketika seseorang merasa takut kehilangan, ia mungkin berusaha semakin dekat. Namun, ketika kedekatan tersebut justru terasa mengancam atau membuatnya kewalahan, ia dapat menarik diri.

Pola seperti ini dapat membuat kedua pasangan sama-sama lelah. Bukan karena tidak ada rasa sayang, tetapi karena rasa sayang tersebut bercampur dengan ketakutan, ketidakamanan, dan kesulitan mengelola emosi.

Perubahan Emosi dan Kesulitan Regulasi Emosi

Salah satu hal yang paling menonjol dalam BPD adalah intensitas dan perubahan emosi.

Seseorang dapat merasa sangat bahagia, dicintai, dan dekat dengan pasangannya, kemudian beberapa waktu setelahnya merasa sangat marah, kecewa, sedih, atau takut kehilangan. Perubahan ini dapat berlangsung dalam hitungan jam hingga beberapa hari.

Masalahnya bukan sekadar “mood yang berubah-ubah”. Individu dengan BPD dapat mengalami kesulitan untuk menenangkan kembali emosi setelah terpicu. Peristiwa yang bagi orang lain mungkin terasa kecil dapat memiliki dampak emosional yang jauh lebih besar.

Dalam hubungan romantis, pemicunya bisa berupa pertengkaran, pesan yang tidak dibalas, perubahan perhatian, kritik, atau perasaan bahwa pasangan mulai menjauh.

Kajian mengenai pasangan dengan BPD menunjukkan bahwa kualitas hubungan cenderung lebih rendah dan konflik pasangan dapat meningkat ketika gejala borderline lebih tinggi. Sebaliknya, ketika gejala BPD mengalami remisi, kualitas hubungan juga dapat menunjukkan perkembangan yang lebih positif.

Karena itu, persoalannya bukan hanya apa yang terjadi dalam hubungan, tetapi bagaimana peristiwa tersebut diproses secara emosional.

Ketika emosi menjadi sangat kuat, seseorang mungkin sulit mengambil jarak sejenak untuk bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi?” Reaksi dapat muncul lebih cepat daripada kemampuan untuk mempertimbangkan situasi secara lebih tenang.

Impulsivitas dan Perilaku Self-Harm

Kesulitan mengatur emosi juga dapat berkaitan dengan impulsivitas. Pada BPD, impulsivitas dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk perilaku berisiko dan self-harm. NIMH mencantumkan self-harm sebagai salah satu gejala yang dapat muncul pada BPD dan menekankan bahwa tidak semua individu dengan BPD mengalami seluruh gejala tersebut.

Self-harm atau perilaku menyakiti diri sendiri perlu dibedakan dari upaya bunuh diri. Pada sebagian kasus, self-harm dilakukan sebagai cara untuk menghadapi atau meredakan tekanan emosional yang terasa sangat sulit ditanggung. Penelitian yang dirangkum NIMH menjelaskan bahwa perilaku tersebut dapat digunakan untuk mengurangi distress emosional atau mengalihkan perhatian dari rasa sakit psikologis.

Namun, self-harm tetap merupakan perilaku serius dan dapat menimbulkan risiko fisik maupun psikologis. Terlebih lagi, individu dengan BPD memiliki risiko self-harm dan pikiran atau perilaku bunuh diri yang lebih tinggi dibandingkan populasi umum.

Karena itu, self-harm tidak tepat dilihat hanya sebagai “cari perhatian” atau cara untuk memanipulasi pasangan. Di balik perilaku tersebut dapat terdapat distress emosional yang sangat besar dan keterbatasan dalam menemukan cara yang lebih aman untuk menghadapinya.

Jika seseorang memiliki dorongan untuk menyakiti diri atau mengakhiri hidup, situasi tersebut membutuhkan bantuan profesional sesegera mungkin, bukan sekadar meminta pasangan untuk tetap bertahan.

Citra Diri, Kekosongan, dan Relasi dengan Orang Lain

Selain hubungan dengan orang lain, BPD juga dapat memengaruhi hubungan seseorang dengan dirinya sendiri.

Individu dengan BPD dapat mengalami self-image atau sense of self yang tidak stabil. Cara mereka melihat diri sendiri, tujuan, nilai, atau identitas dapat berubah dengan cepat. NIMH juga memasukkan distorted and unstable self-image serta chronic feelings of emptiness sebagai karakteristik yang dapat muncul pada BPD.

Perasaan kosong dapat membuat hubungan dengan orang lain terasa sangat penting. Ketika seseorang merasa tidak yakin dengan dirinya sendiri, kedekatan dengan pasangan mungkin menjadi salah satu sumber rasa aman dan validasi.

Namun, ketika hubungan tersebut mengalami masalah, rasa aman itu juga dapat ikut terguncang.

Hal ini dapat menjelaskan mengapa konflik romantis pada BPD terkadang terasa begitu besar. Yang dipertaruhkan bukan hanya “apakah hubungan ini akan berakhir?”, tetapi juga dapat menyentuh pertanyaan yang lebih dalam seperti “Apakah aku masih berharga?”, “Apakah aku masih dicintai?”, atau “Kalau dia pergi, aku ini siapa?”

Dalam kajian Bouchard dan Sabourin, insecure attachment juga menjadi salah satu aspek penting dalam hubungan pasangan pada BPD. Individu dengan BPD menunjukkan tingkat attachment insecurity yang tinggi, sementara pasangan mereka juga dapat mengalami rasa tidak aman dalam hubungan.

Akibatnya, pasangan dapat terjebak dalam siklus saling mencari kepastian tetapi sekaligus saling menjauh ketika konflik menjadi terlalu intens.

Bukan Sekadar “Terlalu Sayang”

Dari luar, perilaku seseorang yang sangat takut kehilangan pasangan mungkin terlihat seperti terlalu bergantung, terlalu cemburu, atau terlalu emosional. Namun, memahami BPD membutuhkan perspektif yang lebih kompleks.

BPD berkaitan dengan pola yang melibatkan regulasi emosi, impulsivitas, citra diri, sensitivitas terhadap penolakan, dan hubungan interpersonal. Karena itu, perilaku dalam hubungan sebaiknya tidak dilihat secara terpisah dari pengalaman psikologis yang mendasarinya.

Yang juga penting, pasangan dari individu dengan BPD dapat mengalami distress. Penelitian yang direview Bouchard dan Sabourin menunjukkan bahwa pasangan maupun anggota keluarga dapat mengalami beban psikologis yang cukup tinggi.

Artinya, memahami BPD bukan berarti membenarkan semua perilaku yang menyakiti orang lain. Empati terhadap pengalaman seseorang tetap dapat berjalan bersama dengan batasan yang sehat dalam hubungan.

Kabar baiknya, BPD bukan kondisi yang berarti seseorang akan selamanya berada dalam pola hubungan yang sama. Psikoterapi merupakan salah satu pendekatan utama dalam penanganan BPD, termasuk Dialectical Behavior Therapy (DBT), yang mengajarkan keterampilan untuk mengelola emosi intens, mengurangi perilaku destruktif, dan memperbaiki hubungan interpersonal.

Pada akhirnya, kalimat “jangan tinggalkan aku” mungkin bukan sekadar permintaan untuk mempertahankan sebuah hubungan. Bagi seseorang yang mengalami ketakutan kehilangan secara intens, kalimat tersebut dapat menjadi gambaran dari perjuangan yang lebih dalam: keinginan untuk merasa aman, dicintai, dan tetap memiliki hubungan dengan orang lain tanpa terus-menerus dihantui kemungkinan ditinggalkan.

Dan memahami hal tersebut adalah langkah pertama untuk melihat BPD bukan sebagai label tentang seseorang yang “terlalu emosional”, tetapi sebagai kondisi psikologis yang kompleks dan dapat ditangani dengan bantuan yang tepat.

Referensi

Bouchard, S., & Sabourin, S. (2009). Borderline Personality Disorder and Couple Dysfunctions.

Instabilitas dan Rasa Takut Ditinggal Anna dalam Anna Karenina, P., Trunojoyo Madura Jl Raya Telang, U., Telang Inda, P., Bangkalan, K., & Timur, J. (2022). READING ANNA’S INSTABILITY AND FEAR OF ABANDONMENT IN ANNA KARENINA. In Jurnal Kajian Sastra dan Budaya (Vol. 11, Issue 2).

Leichsenring, F., Heim, N., Leweke, F., Spitzer, C., Steinert, C., & Kernberg, O. F. (2023). Borderline Personality Disorder: A Review. In JAMA (Vol. 329, Issue 8, pp. 670–679). American Medical Association. https://doi.org/10.1001/jama.2023.05893

Rekomendasi Layanan Jatidiri.app

Rasa takut ditinggalkan yang luar biasa kerap membuat hubungan terasa mencekik. Temukan bimbingan regulasi emosi bersama psikolog klinis di Jatidiri.app.

Akses Konseling Emosi Intens HalloPsy Jatidiri →