by Endar Suhendar, M.Pd.

ADHD pada Anak Laki-Laki dan Anak Perempuan: Apa Bedanya?

ADHD pada Anak Laki-Laki dan Anak Perempuan: Apa Bedanya?

Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas atau ADHD adalah kondisi perkembangan saraf yang umumnya mulai terlihat sejak masa kanak-kanak. Anak dengan ADHD dapat menunjukkan kesulitan memusatkan perhatian, perilaku impulsif, hiperaktif, atau kombinasi dari ketiganya. Kondisi ini tidak selalu berhenti saat anak tumbuh dewasa pada banyak orang, gejalanya bisa berlanjut hingga usia dewasa dengan bentuk yang berbeda.

Menariknya, ADHD tidak selalu muncul dengan cara yang sama pada anak laki-laki dan perempuan. Perbedaan inilah yang sering membuat ADHD pada anak perempuan terlambat dikenali atau bahkan terlewatkan sama sekali.

Seberapa Sering ADHD Terjadi?

Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan bahwa pada tahun 2019, sekitar 9,8% anak di Amerika Serikat didiagnosis ADHD. Jika dilihat dari jenis kelamin, sekitar 13% anak laki-laki didiagnosis ADHD, sedangkan pada anak perempuan hanya sekitar 6%.

Namun, para peneliti percaya bahwa perbedaan ini bukan berarti ADHD lebih jarang terjadi pada perempuan, melainkan karena gejala ADHD pada perempuan seringkali muncul dalam bentuk yang lebih tidak mencolok, sehingga kurang terdiagnosis.

Jenis-Jenis ADHD pada Anak

Secara umum, ADHD dibagi menjadi tiga tipe utama:

  1. Tipe hiperaktif-impulsif, ditandai dengan perilaku gelisah, sulit diam, banyak bicara, dan sering menyela.
  2. Tipe kurang perhatian, seperti mudah terdistraksi, sulit fokus, dan sering tidak menyelesaikan tugas.
  3. Tipe kombinasi, yaitu gabungan dari dua tipe di atas.

Diagnosis ADHD didasarkan pada pola perilaku ini yang bersifat menetap dan berdampak pada kehidupan sehari-hari, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan sosial.

Perbedaan ADHD pada Anak Laki-Laki dan Perempuan

Sejak kecil, anak laki-laki lebih sering didiagnosis ADHD dibandingkan anak perempuan. Namun, pada usia dewasa, perbedaannya tidak lagi terlalu mencolok. Hal ini memperkuat dugaan bahwa banyak anak perempuan dengan ADHD tidak terdeteksi sejak dini.

Beberapa alasan mengapa ADHD pada perempuan sering luput dikenali antara lain:

  • Anak perempuan lebih sering menunjukkan gejala kurang perhatian, bukan hiperaktif.
  • Banyak perempuan mengembangkan strategi kompensasi, seperti berusaha keras menyembunyikan kesulitan mereka.
  • Pada perempuan gejala ADHD lebih sering dipendam dan dirasakan sendiri, sedangkan pada laki-laki gejalanya lebih terlihat lewat perilaku yang tampak dari luar..
  • ADHD pada perempuan sering salah didiagnosis sebagai kecemasan atau depresi.
  • Gejala kurang perhatian baru benar-benar terlihat saat tuntutan akademik meningkat, misalnya di usia remaja atau dewasa muda.

Sebaliknya, anak laki-laki dengan ADHD sering menunjukkan perilaku yang lebih mengganggu lingkungan, sehingga lebih cepat mendapat perhatian dari guru atau orang tua. Hal ini juga memperkuat stereotip bahwa ADHD identik dengan anak laki-laki yang “tidak bisa diam” di kelas.

Ciri ADHD yang Umum pada Anak Laki-Laki

Anak laki-laki dengan ADHD lebih sering menunjukkan gejala hiperaktif dan impulsif, seperti:

  • Sulit duduk tenang, sering gelisah atau bergerak.
  • Banyak bicara dan sering menyela pembicaraan.
  • Bertindak tanpa berpikir.
  • Kesulitan menunggu giliran.
  • Mengganggu aktivitas orang lain.

Mereka juga lebih berisiko mengalami masalah perilaku lain yang muncul bersamaan, seperti gangguan perilaku menentang, perilaku agresif, atau pelanggaran aturan.

Ciri ADHD yang Umum pada Anak Perempuan

Pada anak perempuan, ADHD lebih sering muncul dalam bentuk kurang perhatian, misalnya:

  • Mudah melamun dan tampak tidak mendengarkan.
  • Sering melakukan kesalahan ceroboh.
  • Sulit menyelesaikan tugas.
  • Kesulitan mengatur waktu dan barang.
  • Mudah lupa dan terdistraksi.

Selain itu, perempuan dengan ADHD cenderung mengalami masalah yang lebih bersifat emosional, seperti:

  • Sensitivitas emosi.
  • Kecemasan.
  • Harga diri yang rendah.
  • Keluhan fisik tanpa penyebab medis yang jelas.

Dampak Diagnosis yang Terlambat pada Perempuan

Ketika ADHD pada perempuan tidak terdiagnosis sejak dini, mereka sering tumbuh dengan perasaan “tidak cukup mampu” atau “selalu gagal”. Banyak yang menganggap kesulitan mereka sebagai kelemahan pribadi, bukan sebagai kondisi neurodevelopmental.

Akibatnya, risiko munculnya gangguan lain meningkat, seperti:

  • Depresi.
  • Gangguan kecemasan.
  • Gangguan tidur.
  • Gangguan makan.
  • Penyalahgunaan zat.
  • Masalah kepercayaan diri.

Tidak sedikit perempuan baru menyadari bahwa mereka memiliki ADHD saat dewasa, setelah mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana ADHD muncul pada perempuan. Bagi banyak dari mereka, diagnosis ini menjadi momen yang sangat melegakan karena akhirnya memahami pengalaman hidup mereka sendiri.

ADHD dan Keragaman Gender

Penelitian tentang ADHD masih banyak berfokus pada anak laki-laki dan perempuan cisgender. Sementara itu, pemahaman tentang ADHD pada individu non-biner atau transgender masih sangat terbatas. Dibutuhkan lebih banyak penelitian agar pemahaman ADHD menjadi lebih inklusif dan menyeluruh.

Kapan Perlu Berkonsultasi dengan Profesional?

Dengan dukungan yang tepat, ADHD dapat dikelola dengan baik. Diagnosis dan intervensi sejak dini dapat membantu anak berfungsi lebih optimal hingga dewasa.

Jika orang tua atau guru melihat tanda-tanda ADHD baik pada anak laki-laki maupun perempuan langkah terbaik adalah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau profesional psikologi untuk mendapatkan penilaian yang tepat.

Referensi

Jones, H. ADHD in Boys vs Girls. (2025)

Centers for Disease Control and Prevention. Data and statistics about ADHD. (2024)

American Psychiatric Association. What is ADHD?

Young S, Adamo N, Ásgeirsdóttir BB, et al. Females with ADHD: An expert consensus statement taking a lifespan approach providing guidance for the identification and treatment of attention-deficit/ hyperactivity disorder in girls and women. BMC Psychiatry. 2020;20(1):404. doi:10.1186/s12888-020-02707-9