Apa yang Bisa Menjadi Penyebab Compassion Fatigue? Ini Penjelasan Psikologinya
Apa yang Bisa Menjadi Penyebab Compassion Fatigue? Ini Penjelasan Psikologinya
Compassion fatigue adalah kondisi kelelahan emosional yang sering dialami oleh individu yang terus-menerus memberikan empati, perhatian, dan dukungan kepada orang lain. Tanpa disadari, kemampuan untuk peduli bisa menurun karena beban emosional yang menumpuk. Memahami apa itu compassion fatigue, penyebabnya, serta dampaknya pada kesehatan mental menjadi langkah penting agar kondisi ini tidak berkembang lebih jauh.
Apa Itu Compassion Fatigue?
Pengertian Compassion Fatigue
Compassion fatigue adalah bentuk kelelahan emosional dan mental yang muncul akibat paparan stres emosional secara terus-menerus, terutama saat seseorang sering membantu, merawat, atau mendampingi orang lain yang sedang mengalami kesulitan. Kondisi ini umum terjadi pada caregiver, tenaga kesehatan, pendidik, relawan, maupun individu yang sangat empatik.
Perbedaan Compassion Fatigue dan Burnout
Meski sering disamakan, compassion fatigue berbeda dari burnout. Burnout lebih berkaitan dengan kelelahan akibat beban kerja dan tekanan sistemik, sedangkan compassion fatigue muncul karena keterlibatan emosional yang intens dan berkepanjangan terhadap penderitaan orang lain.
Baca Juga: Ciri-Ciri Anxiety yang Sering Diabaikan dalam Kehidupan Sehari-hari
Penyebab Compassion Fatigue Menurut Psikologi
Paparan Emosi Negatif Secara Terus-Menerus
Salah satu penyebab compassion fatigue utama adalah terlalu sering terpapar cerita, emosi, atau pengalaman traumatis orang lain. Empati yang tidak diimbangi dengan pemulihan emosional dapat menguras energi mental secara perlahan.
Kesulitan Menetapkan Batasan Emosional
Individu yang sulit mengatakan “tidak” atau menetapkan batasan emosional rentan mengalami compassion fatigue. Terlalu terlibat dalam masalah orang lain tanpa ruang untuk diri sendiri dapat mempercepat kelelahan emosional.
Tuntutan Peran sebagai Penolong
Peran sebagai “tempat bersandar” bagi banyak orang sering disertai ekspektasi tinggi untuk selalu kuat dan tersedia. Tekanan ini menjadi salah satu penyebab compassion fatigue karena kebutuhan pribadi sering terabaikan.
Kurangnya Dukungan Emosional
Memberi dukungan tanpa mendapatkan dukungan balik juga berkontribusi pada kelelahan emosional. Ketika seseorang tidak memiliki ruang aman untuk mengekspresikan perasaannya sendiri, beban mental akan semakin berat.
Tanda dan Gejala Compassion Fatigue
Gejala Emosional
Beberapa tanda compassion fatigue yang umum meliputi:
- Merasa lelah secara emosional dan mental
- Kehilangan empati atau merasa “mati rasa”
- Mudah tersinggung atau sinis
- Merasa bersalah saat tidak bisa membantu
Gejala Fisik dan Perilaku
Selain emosional, compassion fatigue juga dapat ditandai dengan:
- Sulit tidur atau kelelahan kronis
- Menarik diri dari lingkungan sosial
- Penurunan motivasi dan konsentrasi
Dampak Compassion Fatigue pada Mental
Menurunnya Kesehatan Mental
Jika tidak ditangani, dampak compassion fatigue pada mental dapat berupa kecemasan, stres berkepanjangan, hingga depresi. Kondisi ini juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang diri sendiri dan hubungannya dengan orang lain.
Mengganggu Hubungan dan Produktivitas
Kelelahan emosional yang terus menumpuk dapat membuat seseorang menjadi lebih dingin, mudah marah, atau tidak hadir secara emosional dalam relasi personal maupun profesional.
Baca Juga: Boundary Setting: Cara Menetapkan Batasan Sehat Tanpa Merasa Bersalah Kepada Orang Lain
Cara Mengatasi Compassion Fatigue
Mengenali dan Mengakui Kondisi Diri
Langkah awal cara mengatasi compassion fatigue adalah menyadari bahwa kelelahan emosional yang dialami itu nyata dan valid. Mengakui kondisi diri bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian pada kesehatan mental.
Menetapkan Batasan yang Sehat
Belajar menetapkan batasan emosional membantu melindungi energi mental. Tidak semua masalah orang lain harus ditanggung sendiri.
Memberi Ruang untuk Pemulihan Diri
Istirahat emosional, aktivitas yang menyenangkan, dan waktu untuk diri sendiri sangat penting untuk memulihkan empati yang terkuras.
Kapan Perlu Konsultasi dengan Psikolog?
Tanda Kamu Perlu Bantuan Profesional
Jika kelelahan emosional berlangsung lama, mengganggu aktivitas, atau membuatmu kehilangan minat pada hal-hal yang sebelumnya bermakna, ini bisa menjadi tanda bahwa sudah waktunya konsultasi dengan psikolog tepercaya.
Pentingnya Konseling dengan Psikolog
Konseling dengan psikolog membantu individu memahami akar masalah compassion fatigue, mengelola emosi secara sehat, dan membangun strategi coping yang lebih adaptif.
Baca Juga: ADD dan ADHD: Apa Bedanya dan Mengapa Sering Membingungkan?
Jatidiri dan HalloPsy: Dukungan Profesional untuk Compassion Fatigue
Jatidiri sebagai Platform Psikologi Tepercaya
Jatidiri adalah platform layanan psikologi yang mendampingi individu dalam memahami dan mengelola kesehatan mental secara profesional dan terarah, termasuk kondisi kelelahan emosional seperti compassion fatigue.
HalloPsy: Konsultasi Psikologi Profesional
Salah satu layanan unggulan Jatidiri adalah HalloPsy, layanan konsultasi psikologi profesional yang:
- Bisa diakses kapan saja dan di mana saja
- Ditangani oleh psikolog berpengalaman
- Menjaga kerahasiaan secara penuh
HalloPsy menjadi ruang aman bagi kamu yang merasa lelah secara emosional dan membutuhkan pendampingan profesional tanpa stigma.
Saatnya Lebih Peduli pada Kesehatan Mentalmu
Compassion fatigue bukan tanda kamu kurang peduli, tetapi tanda bahwa kamu terlalu lama peduli tanpa jeda. Dengan pemahaman yang tepat dan dukungan profesional, kelelahan emosional dapat dikelola secara lebih sehat.
Ingin Bertanya atau Konsultasi Lebih Lanjut?
WhatsApp: +62 851-4239-8721
Konsultasi offline:
Jalan Abdul Halim No. 128, Cigugur Tengah,
Cimahi Tengah, Kota Cimahi, Jawa Barat
Bersama Jatidiri dan HalloPsy, kamu tidak harus menghadapi kelelahan emosional sendirian.