Mengapa Seseorang Mengalami Bipolar? Ini Penyebab dan Faktor Risikonya
Mengapa Seseorang Mengalami Bipolar? Ini Penyebab dan Faktor Risikonya
Apa Penyebab Gangguan Bipolar
Gangguan bipolar merupakan salah satu gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati, energi, dan fungsi aktivitas sehari-hari yang ekstrem. Hingga saat ini, tidak ada satu penyebab tunggal yang dapat menjelaskan mengapa seseorang mengalami gangguan bipolar. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini muncul akibat kombinasi beberapa faktor yang saling berkaitan. Oleh karena itu, pemahaman mengenai penyebab dan faktor risikonya menjadi penting, terutama untuk mendukung intervensi dini, khususnya pada individu dengan riwayat keluarga.
Gangguan Bipolar sebagai Gangguan Otak
Secara ilmiah, gangguan bipolar dipahami sebagai gangguan otak atau penyakit mental yang melibatkan perubahan dalam sistem pengaturan suasana hati, energi, dan fungsi kognitif. Perubahan ini dipengaruhi oleh interaksi antara faktor biologis, psikologis, dan lingkungan.
Peran Faktor Genetik
Faktor genetik diketahui memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap risiko gangguan bipolar. Penelitian menunjukkan bahwa risiko seumur hidup seseorang untuk mengalami gangguan bipolar dapat meningkat hingga delapan kali lipat apabila memiliki anggota keluarga derajat pertama (seperti orang tua atau saudara kandung) dengan gangguan yang sama. Risiko tersebut menjadi lebih tinggi apabila kedua orang tua memiliki gangguan bipolar. Meski demikian, tidak ada satu gen tunggal yang menjadi penyebab utama, melainkan keterlibatan banyak gen yang saling berinteraksi.
Trauma Masa Kecil sebagai Faktor Risiko Lingkungan
Pengalaman traumatis atau perlakuan buruk di masa kanak-kanak, seperti kekerasan fisik, seksual, emosional, maupun pengabaian, telah dikaitkan dengan meningkatnya risiko gangguan mental di kemudian hari, termasuk gangguan bipolar. Meskipun hubungan antara trauma masa kecil dan gangguan bipolar telah ditemukan, mekanisme pasti yang menjelaskan hubungan ini masih menjadi fokus penelitian lebih lanjut. Artinya, trauma masa kecil tidak secara langsung menyebabkan gangguan bipolar, tetapi dapat meningkatkan kerentanan seseorang.
Pengaruh Peristiwa Kehidupan yang Menekan
Peristiwa kehidupan yang penuh tekanan, seperti kehilangan pekerjaan, perceraian, kematian orang tua, disabilitas, atau kehilangan anggota keluarga akibat bunuh diri, juga dapat mempengaruhi perjalanan gangguan bipolar. Beberapa studi menunjukkan bahwa peristiwa stres berat yang terjadi dalam enam bulan terakhir dapat memicu munculnya episode manik atau depresi, terutama pada individu yang sudah memiliki kerentanan. Namun, tidak semua orang yang mengalami peristiwa negatif akan mengembangkan gangguan bipolar.
Penyalahgunaan Zat dan Hubungannya dengan Bipolar
Gangguan bipolar sering ditemukan bersamaan dengan gangguan penggunaan zat. Hubungan antara keduanya bersifat dua arah. Penggunaan zat seperti alkohol, ganja, kokain, opioid, atau obat penenang dapat memicu episode manik atau depresi pada individu yang rentan. Sebaliknya, gangguan bipolar juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyalahgunaan zat. Kondisi ini kerap menyulitkan diagnosis karena gejala yang muncul bisa menyerupai gangguan bipolar itu sendiri.
Faktor Risiko Gangguan Bipolar
Berbagai faktor seperti genetika, trauma masa kecil, stres kehidupan, dan penyalahgunaan zat lebih tepat disebut sebagai faktor risiko, bukan penyebab langsung. Faktor-faktor ini meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami gangguan bipolar, tetapi tidak bersifat menentukan. Memiliki beberapa faktor risiko tidak berarti seseorang pasti akan mengembangkan gangguan bipolar. Pemahaman terhadap faktor risiko ini penting untuk membantu deteksi dini dan pencegahan komplikasi.
Perbedaan Struktur dan Fungsi Otak
Menurut National Institute of Mental Health, terdapat perbedaan struktur dan fungsi otak pada individu dengan gangguan bipolar dibandingkan dengan individu tanpa gangguan mental. Perbedaan ini terlihat pada korteks prefrontal yang berperan dalam pengendalian impuls dan pemecahan masalah, struktur subkortikal yang mengatur emosi, suasana hati, serta produksi hormon, dan struktur temporal medial yang berperan dalam memori.
Faktor yang Memperburuk Gejala
Gejala gangguan bipolar dapat memburuk akibat berbagai faktor, seperti stres lingkungan, gangguan tidur, ketidakpatuhan terhadap pengobatan, serta penggunaan alkohol dan narkoba. Menghentikan atau tidak mengkonsumsi obat sesuai anjuran, khususnya obat penstabil suasana hati seperti lithium, menjadi salah satu penyebab utama kekambuhan.
Komplikasi Psikososial
Selain faktor biologis, aspek psikologis dan sosial juga berperan dalam munculnya komplikasi gangguan bipolar. Kurangnya dukungan sosial, disfungsi keluarga, serta minimnya pemahaman dari orang-orang terdekat dapat memperberat kondisi individu dengan gangguan bipolar.
Penutupan
Gangguan bipolar tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Sebaliknya, kondisi ini muncul akibat interaksi kompleks antara faktor genetik, pengalaman masa kecil, stres kehidupan, penyalahgunaan zat, kondisi medis tertentu, perbedaan struktur otak, serta faktor sosial. Penting untuk dipahami bahwa faktor risiko bukanlah takdir. Dengan deteksi dini, dukungan yang tepat, dan pengobatan yang konsisten, gangguan bipolar dapat dikelola secara efektif sehingga kualitas hidup penderitanya tetap terjaga.
Referensi
Pugle, M. What Causes Bipolar Disorder?. (2024)
American Psychiatric Association. What are bipolar disorders?. (2024)
Rowland TA, Marwaha S. Epidemiology and risk factors for bipolar disorder. Ther Adv Psychopharmacol. 2018;8(9):251-269. doi:10.1177/2045125318769235
Quidé Y, Tozzi L, Corcoran M, Cannon DM, Dauvermann MR. The impact of childhood trauma on developing bipolar disorder: current understanding and ensuring continued progress. Neuropsychiatr Dis Treat. 2020;16:3095-3115. doi:10.2147/NDT.S285540
Bortolato B, Köhler CA, Evangelou E, et al. Systematic assessment of environmental risk factors for bipolar disorder: an umbrella review of systematic reviews and meta-analyses. Bipolar Disord. 2017;19(2):84-96. doi:10.1111/bdi.12490