by Endar Suhendar, M.Pd.

Sisi Gelap Senyum Palsu: Kapan “Berpikir Positif” Berubah Menjadi Toxic Positivity?

Sisi Gelap Senyum Palsu: Kapan “Berpikir Positif” Berubah Menjadi Toxic Positivity?

Di tengah budaya self-improvement dan motivasi tanpa henti, kita sering didorong untuk selalu berpikir positif. Namun, tidak semua bentuk optimisme berdampak sehat. Ketika emosi negatif ditekan dan realitas sulit diabaikan, berpikir positif berlebihan justru bisa berubah menjadi, yaitu sebuah kondisi yang diam-diam merusak kesehatan mental.

Apa Itu Toxic Positivity?

Perbedaan Berpikir Positif dan Berpikir Positif Berlebihan

Berpikir positif pada dasarnya membantu individu melihat harapan di tengah kesulitan. Namun, berpikir positif berlebihan terjadi ketika seseorang menolak mengakui emosi negatif seperti sedih, marah, atau kecewa.

Alih-alih memproses emosi secara sehat, individu justru memaksakan diri untuk “tetap bahagia” dalam kondisi apa pun. Di sinilah toxic positivity mulai muncul—emosi negatif dianggap salah, lemah, atau tidak pantas dirasakan.

Contoh Toxic Positivity dalam Kehidupan Sehari-hari

“Jangan sedih, orang lain hidupnya lebih susah.”

“Pikirkan saja yang positif, nanti juga hilang.”

“Kamu kurang bersyukur makanya merasa seperti ini.”

Kalimat-kalimat ini terdengar suportif, tetapi sebenarnya meniadakan pengalaman emosional seseorang.

Dampak Toxic Positivity terhadap Kesehatan Mental

1. Menekan Emosi dan Menghambat Regulasi Emosi

Salah satu dampak toxic positivity yang paling serius adalah terganggunya regulasi emosi. Ketika emosi negatif terus ditekan, tubuh dan pikiran tidak memiliki ruang untuk memproses stres secara sehat.

Dalam jangka panjang, hal ini dapat memicu:

  • kecemasan berlebih
  • kelelahan emosional
  • rasa bersalah saat merasa sedih 
  • kesulitan mengenali kebutuhan diri sendiri
     

Emosi yang tidak diproses bukan hilang, melainkan menumpuk.

2. Hubungan Sosial Menjadi Tidak Sehat

Toxic positivity juga berdampak pada relasi. Individu bisa merasa tidak aman untuk jujur secara emosional karena takut dianggap “negatif”. Akibatnya, hubungan menjadi dangkal dan minim empati.

Mengapa Regulasi Emosi Lebih Penting daripada Selalu Positif

Sedih, marah, kecewa, dan takut adalah bagian alami dari pengalaman manusia. Regulasi emosi bukan berarti menghindari emosi negatif, tetapi mampu mengenali, menerima, dan mengekspresikannya dengan cara yang sehat.

Dengan regulasi emosi yang baik, seseorang dapat:

  • memahami sumber masalah
  • membuat keputusan lebih rasional 
  • membangun self-compassion 
  • menjaga kesehatan mental jangka panjang
     

Saatnya Mencari Dukungan Profesional

Jika Anda merasa terjebak dalam pola toxic positivity, kesulitan mengekspresikan emosi, atau mengalami kelelahan mental, mencari bantuan profesional adalah langkah bijak, bukan tanda kelemahan.

Jatidiri: Biro Psikologi Tepercaya

Jatidiri hadir sebagai biro psikologi online dan offline yang menyediakan layanan konseling profesional untuk membantu Anda memahami emosi, membangun regulasi emosi yang sehat, dan keluar dari tekanan berpikir positif berlebihan.

Sebagai biro psikologi Bandung, Jatidiri juga melayani konseling daring yang fleksibel, aman, dan rahasia, dapat diakses dari mana saja.

Melalui pendekatan empatik dan berbasis ilmiah, biro psikologi online Jatidiri mendampingi Anda untuk:

  • memvalidasi emosi tanpa menghakimi
  • mengelola stres dan kecemasan 
  • membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri

Ingat, Anda tidak harus selalu baik-baik saja. Dan Anda tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Jatidiri siap menjadi ruang aman untuk memahami diri secara utuh, tanpa senyum palsu.