by Endar Suhendar, M.Pd.

Stop Membandingkan Diri! Fokus Pada 3 Hal Ini untuk Hidup Lebih Bahagia

Pernah nggak, sih, kamu lagi santai buka media sosial, tiba-tiba lihat teman lama pamer mobil baru? Atau lihat postingan liburan mewah kolega kerja, padahal kamu sendiri lagi pusing mikirin cicilan?

Seketika, perasaan tenangmu hilang. Muncul bisikan di kepala, "Kok dia bisa, ya? Aku kapan?"

Kalau pernah, tenang, kamu nggak sendirian. Membandingkan diri itu refleks manusiawi. Tapi kalau dibiarkan, kebiasaan ini seperti racun pelan-pelan yang menggerogoti kebahagiaan kita. Kita jadi sibuk melihat rumput tetangga yang (kelihatannya) lebih hijau, sampai lupa menyirami rumput di halaman sendiri.

Kabar baiknya, kita bisa menghentikan siklus ini. Caranya bukan dengan menjadi lebih hebat dari orang lain, tapi dengan mengalihkan fokus kita.

Yuk, coba fokus pada 3 hal sederhana ini mulai hari ini.

 

1. Fokus pada Progres Pribadi, Bukan Pencapaian Orang Lain

Satu-satunya perbandingan yang adil di dunia ini adalah: dirimu hari ini dengan dirimu yang kemarin.

Coba pikirkan lagi. Minggu lalu, mungkin kamu berhasil menyelesaikan tugas yang sulit. Bulan lalu, kamu mungkin akhirnya berani memulai olahraga. Setahun yang lalu, kamu mungkin belum sepandai sekarang dalam mengelola emosi. Itu semua adalah progres!

Orang lain punya titik awal, sumber daya, dan kesempatan yang berbeda. Membandingkan pencapaianmu dengan mereka itu seperti membandingkan apel dengan jeruk. Nggak akan pernah relevan.

Alih-alih bilang: "Enak ya dia sudah punya rumah sendiri."

Coba katakan pada diri sendiri: "Alhamdulillah, bulan ini aku berhasil menabung lebih banyak dari bulan kemarin."

Lihat, kan? Perspektifnya langsung berubah. Kamu menjadi pemeran utama dalam ceritamu sendiri, bukan penonton di cerita orang lain.

 

2. Kenali dan Syukuri Apa yang Sudah Kamu Genggam

Membandingkan diri sering kali membuat kita buta terhadap apa yang sudah kita miliki. Mata kita terlalu sibuk melihat ke luar, sampai lupa melihat ke dalam genggaman tangan sendiri.

Padahal, kebahagiaan itu sering kali ada pada hal-hal yang kita anggap sepele.

Coba deh, ambil jeda sebentar setiap hari. Nggak perlu lama, cukup 2 menit. Pikirkan tiga hal yang kamu syukuri hari ini. Mungkin sesederhana secangkir kopi hangat di pagi hari, obrolan seru dengan sahabat, atau sekadar bisa pulang kerja tepat waktu.

Rasa syukur adalah penawar paling ampuh untuk rasa iri. Semakin kamu pandai bersyukur, semakin kamu sadar bahwa kamu sudah punya lebih dari cukup untuk merasa bahagia saat ini juga.

 

3. Pahami Bahwa Setiap Orang Punya Garis Waktu Sendiri

Temanmu menikah di usia 25, sementara kamu masih sendiri di usia 30. Sahabatmu dapat promosi jabatan, sementara kariermu terasa stagnan. Rasanya seperti tertinggal, kan?

Ingat ini baik-baik: hidup bukanlah sebuah perlombaan.

Setiap orang punya timeline atau garis waktu yang sudah diatur oleh Tuhan. Ada bunga yang mekar di musim semi, ada juga yang baru mekar di musim gugur. Keduanya sama-sama indah, hanya waktunya saja yang berbeda.

Keberhasilan temanmu tidak mengurangi jatah keberhasilanmu. Justru, jadikan itu sebagai inspirasi bahwa setiap orang punya gilirannya masing-masing untuk bersinar. Fokus saja pada prosesmu, jalani musimmu dengan sabar, dan percayalah waktumu akan tiba.

 

Sudah Siap Memulai Perjalanan Bahagiamu?

Menghentikan kebiasaan membandingkan diri memang butuh latihan. Kuncinya adalah mengalihkan fokus dari luar ke dalam: dari pencapaian orang lain ke progres diri sendiri, dari apa yang tidak kamu miliki ke rasa syukur, dan dari timeline orang lain ke perjalanan hidupmu sendiri.

Ingin tahu seberapa jauh perjalanan bahagiamu? Atau sekadar penasaran di titik mana kamu berada saat ini dalam mengenali dirimu?

Coba deh cek indeks kebahagiaanmu lewat asesmen gratis Jatidiri Bahagia di jatidiri.app. Anggap saja ini langkah awalmu untuk lebih mengenal dan mencintai dirimu seutuhnya.