by Endar Suhendar, M.Pd.

"Beli Sekarang, Nangis Kemudian", Membedah Jebakan Psikologis di Balik Candu Paylater

Jam 11 malam. Anda sedang scrolling aplikasi belanja online. Mata Anda tertuju pada sepatu sneakers keluaran terbaru. Harganya 2 juta rupiah. Dompet Anda sedang tipis, gaji masih dua minggu lagi. Logika Anda berkata: "Jangan, nggak ada duit."

Tapi kemudian, tombol ajaib itu muncul: "Paylater. Cicilan 12x. Cuma 180 ribu per bulan."

Tiba-tiba, otak Anda melakukan kalkulasi ulang. "Ah, 180 ribu sih murah! Cuma seharga kopi seminggu." Klik. Transaksi berhasil. Barang dikirim. Anda merasa puas.

Sampai akhirnya tagihan datang menumpuk di akhir bulan, dan Anda sadar gaji Anda hanya numpang lewat untuk membayar barang-barang yang—ironisnya—rasa senangnya sudah hilang sejak minggu lalu.

Selamat datang di era Kecanduan Utang Digital.

Banyak yang mengira terjerat Paylater adalah masalah "kurang duit" atau "kurang literasi keuangan". Padahal, masalah utamanya ada di psikologi. Fitur ini dirancang dengan sangat cerdas untuk mengeksploitasi kelemahan otak manusia. Mari kita bedah apa yang sebenarnya terjadi di kepala Anda.

 

1. Mematikan Rasa Sakit Membayar (The Pain of Paying)

 

Secara psikologis, mengeluarkan uang tunai (cash) itu menyakitkan. Ada area di otak bernama insula yang aktif saat kita melihat uang fisik berpindah tangan; area yang sama yang aktif saat kita merasakan sakit fisik. Ini adalah rem alami kita agar tidak boros.

Trik Paylater: Fitur ini bertindak sebagai anestesi (bius). Ia memutus hubungan antara "nikmatnya membeli" dan "sakitnya membayar". Saat Anda klik "Beli Sekarang, Bayar Nanti", Anda mendapatkan dopamin (rasa senang) dari barang baru tanpa merasakan sakitnya kehilangan uang saat itu juga. Rasa sakitnya ditunda ke masa depan. Otak Anda tertipu, merasa seolah-olah barang itu "gratis" atau hadiah.

 

2. Jebakan Present Bias (Bias Masa Kini)

 

Manusia punya cacat logika yang disebut Present Bias. Kita cenderung memberi nilai jauh lebih tinggi pada kepuasan instan saat ini, dibandingkan konsekuensi di masa depan.

  • Trik Paylater: Paylater mengeksploitasi bias ini habis-habisan.
  • Diri Anda Sekarang: Mendapat sepatu baru (Senang!).
  • Diri Anda Bulan Depan: Harus membayar utang (Menderita). Otak Anda secara tidak adil membebankan penderitaan itu pada "Diri Anda di Masa Depan". Anda berpikir, "Ah, urusan bayar itu masalah aku versi bulan depan, yang penting aku versi sekarang happy." Anda memperlakukan diri Anda di masa depan seperti orang asing yang bisa Anda bebankan masalah.

 

3. Ilusi Keterjangkauan (Affordability Illusion)

 

Otak manusia buruk dalam memproses angka besar yang dipecah. Harga Rp 2.000.000 terdengar mahal dan menakutkan. Tapi Rp 180.000/bulan terdengar "receh" dan aman.

Paylater mengubah fokus Anda dari Total Harga menjadi Nominal Cicilan. Ini membuat Anda merasa daya beli Anda meningkat berkali-kali lipat. Anda merasa "kaya", padahal Anda hanya sedang menggali lubang kemiskinan dengan sendok teh—sedikit demi sedikit, tapi pasti dalam.

 

4. Lingkaran Setan Retail Therapy

 

Bagi banyak orang, belanja adalah mekanisme koping (coping mechanism) untuk mengatasi stres, kesepian, atau rasa rendah diri. Paylater menghilangkan satu-satunya penghalang (yaitu: tidak punya uang tunai) untuk melakukan mekanisme koping ini.

Akibatnya? Saat stres, Anda belanja pakai Paylater. Saat tagihan datang, Anda stres lagi. Untuk mengobati stres karena tagihan, Anda belanja lagi (mungkin di aplikasi lain). Ini adalah lingkaran setan kecanduan yang mematikan.

 

Cara Keluar dari Perangkap Psikologis Ini

 

Jika Anda merasa tersindir dengan tulisan di atas, jangan panik. Kesadaran adalah langkah awal. Berikut cara "memprogram ulang" otak Anda:

  • Kembalikan "Rasa Sakit" Itu 

Hapus koneksi otomatis Paylater. Persulit prosesnya. Jika perlu, kembali gunakan uang tunai atau debit untuk belanja harian. Paksa otak Anda merasakan uang itu berkurang saat transaksi terjadi.

  • Aturan 24 Jam (Atau 7 Hari) 

Lawan Present Bias dengan menunda. Saat ingin membeli sesuatu (selain kebutuhan pokok) dengan Paylater, wajibkan diri menunggu 24 jam. Biasanya, impuls dopamin itu akan hilang, dan logika Anda akan kembali bekerja: "Kayaknya aku nggak butuh-butuh amat deh."

  • Visualisasikan "Diri Masa Depan" Anda 

Sebelum klik bayar, bayangkan diri Anda bulan depan sedang pusing melihat saldo ATM yang kosong. Tanyakan: "Apakah aku tega menyusahkan dia demi kesenangan 5 menit ini?" Belajarlah berempati pada diri Anda sendiri di masa depan.

  • Cari Tahu "Lubang" Apa yang Anda Tambal 

Apakah Anda belanja karena butuh barangnya? Atau karena Anda bosan? Kesepian? Merasa tidak berharga dan butuh validasi gaya hidup? Paylater hanya menambal lubang itu sementara. Selesaikan akar masalah emosionalnya, maka keinginan belanja impulsif akan mereda.

 

Hidup Tenang Tanpa Beban Semu

Paylater menjanjikan kemudahan, tapi seringkali bayarannya adalah ketenangan jiwa Anda. Tidak ada sepatu, gadget, atau baju baru yang sebanding dengan nyenyaknya tidur tanpa dikejar tagihan.

Kekayaan sejati bukanlah seberapa banyak barang yang bisa Anda beli sekarang, tapi seberapa besar kendali yang Anda miliki atas keinginan diri sendiri.

 

Merasa Impulsif dan Sulit Mengontrol Diri?

Kecanduan belanja dan sulit menahan godaan Paylater seringkali berkaitan erat dengan tipe kepribadian tertentu (seperti tingkat impulsivitas tinggi atau kontrol diri rendah) atau masalah emosional yang belum tuntas.

Konsultasi Akar Masalah: 

Jika belanja sudah menjadi pelarian stres yang merusak hidup, bicarakan dengan psikolog di HalloPsy. Temukan cara mengatasi stres yang lebih sehat tanpa harus menghancurkan dompet Anda.

Hentikan gali lubang tutup lubang. Mulailah bangun fondasi hidup yang kokoh.