by Endar Suhendar, M.Pd.

Korban Diam Perceraian terhadap Anak & Remaja

Di tengah tingginya kasus perceraian, seringkali ada korban diam yang perasaannya terabaikan: anak-anak. Dampak psikologis dari broken home (perceraian orang tua) pada kesehatan mental anak sangat signifikan dan bisa bertahan hingga mereka dewasa.

Memahami apa yang mereka rasakan adalah kunci untuk mencegah luka jangka panjang. Berikut adalah dampak psikologis yang paling umum dialami anak dan remaja akibat perceraian:

  1. Menyalahkan Diri Sendiri (Self-Blame) Anak-anak, terutama yang lebih muda, seringkali berpikir bahwa perceraian terjadi karena kesalahan mereka. Mereka merasa "jika saja aku jadi anak baik, mereka tidak akan berpisah."
  2. Sulit Membangun Kepercayaan (Trust Issues) Melihat fondasi keluarga runtuh dapat membuat anak sulit percaya pada orang lain. Saat dewasa, mereka mungkin kesulitan membangun hubungan yang sehat dan berkomitmen, karena takut akan ditinggalkan.
  3. Risiko Depresi Remaja dan Perilaku Destruktif Riset dari UNAIR menunjukkan bahwa perceraian orang tua adalah salah satu pemicu depresi remaja. Perasaan kehilangan, marah, dan kesepian ini bisa bermanifestasi menjadi perilaku destruktif, seperti agresivitas, melanggar aturan, atau menarik diri.

Pencegahan terbaik, menurut riset UNAIR, adalah peran aktif orang tua pasca-cerai. Anak perlu diyakinkan bahwa ini bukan salah mereka dan bahwa mereka tetap dicintai.

Apakah Anda seorang remaja yang sedang berjuang menghadapi perpisahan orang tua? Atau orang tua yang khawatir dengan dampak perceraian pada anak? Memahami adalah langkah awal. Ambil langkah pertama mu di Jatidiri App. Coba Asesmen Kecemasan & Stres kami untuk memetakan perasaanmu secara valid.