by Endar Suhendar, M.Pd.

"Cerai Itu Nggak Apa-Apa": Saat Influencer Menormalisasi Perceraian & Dampaknya pada Kita

Dulu, perceraian adalah topik yang dibicarakan secara bisik-bisik, dianggap sebagai aib atau kegagalan. Kini, di era digital, kita melihat influencer atau public figure mengumumkan perpisahan mereka dengan slide presentasi di Instagram Stories atau konferensi pers yang rapi. Kasus perceraian di Indonesia sendiri terus meningkat; data menunjukkan angka 466.359 kasus pada tahun 2022.

Normalisasi cerai oleh public figure ini memiliki dua sisi. Di satu sisi, ini membantu meruntuhkan stigma. Ini menunjukkan bahwa berpisah, terutama jika didasari oleh isu destruktif seperti Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) adalah langkah berani untuk menyelamatkan kesehatan mental diri sendiri.

Namun, di sisi lain, "estetika" perceraian para influencer seringkali menyembunyikan realitas yang jauh lebih rumit. Di balik foto "berpisah baik-baik", ada dampak psikologis berat yang harus ditanggung oleh suamiistri, dan terutama anak-anak.

Bagi banyak perempuan (istri), perceraian sering berarti menanggung beban ganda, baik secara emosional maupun finansial. Bagi mereka yang selamat dari KDRT, perceraian adalah awal dari perjalanan panjang menyembuhkan luka psikologis mendalam.

Pada akhirnya, perceraian bukanlah tren. Ini adalah keputusan hidup kompleks yang dampaknya sangat nyata.

Merasa terjebak dalam hubungan yang menguras mental? Atau sedang berjuang memulihkan diri pasca-perceraian? Kamu tidak sendirian. Ambil langkah pertama mu untuk healing dengan sesi konseling profesional di Hallopsy di Jatidiri App.