by Endar Suhendar, M.Pd.

Di Balik Perceraian: Beban Kesehatan Mental Istri dan Luka Trauma Akibat KDRT

Angka kasus perceraian di Indonesia terus meningkat. Namun, seringkali perceraian bukanlah awal dari masalah, melainkan akhir dari penderitaan panjang yang tersembunyi. Salah satu pemicu utama yang menyisakan luka psikologis mendalam adalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Bagi banyak istri (dan terkadang suami), bertahan dalam pernikahan yang penuh KDRT adalah siklus trauma. KDRT tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga "luka tak terlihat" yang merusak kesehatan mental survivor.

Ketika perceraian akhirnya diambil sebagai jalan keluar, perjuangan belum selesai.

1. Dampak Psikologis Pasca-KDRT Survivor KDRT seringkali harus berjuang melawan Post-Traumatic Stress Disorder(PTSD), kecemasan kronis, depresi, dan self-esteem (harga diri) yang hancur lebur akibat kekerasan yang dialami.

2. Beban Ganda Pasca-Cerai Seperti yang dicatat oleh NU Online, perempuan (istri) seringkali menghadapi beban ganda pasca-cerai. Selain harus memulihkan trauma emosional, mereka juga seringkali harus menanggung beban finansial dan tanggung jawab mengasuh anak sendirian.

Memilih bercerai dari hubungan yang toxic atau penuh kekerasan bukanlah kegagalan. Itu adalah tindakan keberanian yang ekstrem untuk menyelamatkan diri.

Memulihkan diri dari trauma KDRT atau beban berat pasca-perceraian adalah proses yang membutuhkan dukungan. Kamu tidak harus melaluinya sendirian. Ambil langkah pertama mu di Jatidiri App. Temukan psikolog profesional di Hallopsy untuk membantumu memproses lukamu dan membangun kembali kekuatanmu.