Krisis Generasi Z : Mengapa Angka Depresi Remaja & Masalah Kesehatan Mental Terus Meningkat?
Masa remaja adalah masa transisi yang penuh gejolak. Namun, bagi Generasi Z, tantangan ini tampaknya jauh lebih berat. Data menunjukkan bahwa isu kesehatan mental remaja bukan lagi sekadar keluhan, melainkan sebuah krisis yang terukur.
Secara global, 1 dari 7 anak berusia 10–19 tahun mengalami masalah kesehatan mental. Di Indonesia, situasinya tidak kalah mengkhawatirkan. Survei I-NAMHS (2022) mencatat bahwa 34,8% remaja Indonesia (1 dari 3) telah mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.
Riset dari Universitas Airlangga juga mengonfirmasi adanya peningkatan signifikan dalam penelitian mengenai isu kesehatan mental remaja di Indonesia sejak tahun 2020, menunjukkan urgensi yang semakin diakui oleh para akademisi.
Lalu, apa yang menjadi pemicu utama dari krisis ini?
- Tekanan Akademik & Burnout Tuntutan untuk selalu berprestasi, beban tugas yang berat, dan jadwal yang padat seringkali menyebabkan stres berlebihan. Jika tidak dikelola, ini bisa berujung pada burnout (kelelahan kronis) di kalangan siswa.
- Perbandingan Sosial Media Artikel dari Universitas Airlangga menyebut media sosial sebagai salah satu faktor dominan. Paparan terus-menerus terhadap "standar sukses" atau "kecantikan" yang tidak realistis memicu perbandingan diri, menurunkan rasa percaya diri, dan meningkatkan risiko kecemasan serta depresi remaja.
- Lingkungan (Keluarga & Perundungan) Konflik keluarga, pola asuh yang kurang suportif, serta ketidakhadiran figur orang tua secara emosional dapat memperburuk kondisi mental. Selain itu, bullying (perundungan), baik secara fisik maupun cyberbullying, dapat menyebabkan trauma emosional jangka panjang.
Memahami akar masalah ini adalah langkah pertama untuk menyadari bahwa apa yang dirasakan remaja saat ini bukanlah "labil" atau "caper", melainkan respons nyata terhadap tekanan yang nyata.