by Endar Suhendar, M.Pd.

Selingkuh. Mengira Menemukan ‘Oase’ di Gurun, Padahal Sedang Meminum Air Laut

Semuanya seringkali dimulai dari hal yang remeh. Pesan singkat yang membuat senyum. Curhat colongan di jam makan siang. Perasaan "nyambung" yang sudah lama hilang dengan pasangan di rumah. Tiba-tiba, ada desir darah yang membuat Anda merasa muda kembali. Ada seseorang yang memuji Anda, melihat Anda, dan menghargai Anda.

Anda berkata pada diri sendiri, "Ini bukan selingkuh, ini cuma teman ngobrol."

Lalu berubah menjadi, "Aku berhak bahagia. Pasanganku di rumah sudah berubah."

Setan memang pemasar yang jenius. Ia tidak pernah menawarkan "kehancuran rumah tangga" atau "dosa besar". Ia membungkus pengkhianatan dengan kemasan indah bertuliskan "Cinta Sejati yang Terlambat Datang" atau "Obat Kesepian".

Namun, mari kita bedah realitas pahit di balik kemasan indah itu.

Dalam Islam dan logika psikologis yang sehat, perselingkuhan bukanlah jalan keluar menuju kebahagiaan. Itu adalah jalan pintas menuju kehancuran total—jiwa, raga, dan agama. Mengapa?

 

1. Pengkhianatan Terhadap Mitsaqan Ghaliza (Perjanjian yang Agung)

 

Dalam Al-Qur'an, pernikahan disebut sebagai Mitsaqan Ghaliza (perjanjian yang kuat/berat). Istilah ini hanya digunakan tiga kali dalam Al-Qur'an, salah satunya untuk perjanjian para Nabi dengan Allah.

Ketika Anda menikah, Anda tidak sedang menandatangani kontrak dengan pasangan Anda atau mertua Anda. Anda sedang berjanji atas nama Allah. Anda menghalalkan hubungan yang haram dengan kalimat Allah.

Selingkuh, karenanya, bukan sekadar menyakiti hati istri atau suami. Itu adalah pelecehan terhadap janji Anda kepada Sang Pencipta. Anda sedang merobek kontrak suci yang disaksikan oleh para malaikat. Bagaimana mungkin kita mengharapkan ketenangan (sakinah) jika fondasi utamanya—ketaatan pada Allah—sedang kita hancurkan sendiri?

 

2. Ilusi Kebahagiaan: Meminum Air Laut

 

Orang berselingkuh karena mencari kepuasan emosional yang hilang. Namun, ini adalah jebakan psikologis. Hubungan terlarang selalu terasa "indah" dan "menggairahkan" karena tidak ada tanggung jawab di dalamnya.

Anda hanya bertemu untuk bersenang-senang, makan enak, atau bicara manis. Anda tidak mengurus cicilan rumah bersamanya, tidak mengurus anak sakit bersamanya, tidak melihat wajah bangun tidurnya yang kusut.

Itu bukan cinta; itu dopamin. Itu hawa nafsu yang menyamar.

Membandingkan pasangan sah Anda (yang menemani Anda dalam susah payah realitas) dengan selingkuhan (yang hanya ada dalam fantasi kesenangan) adalah ketidakadilan berpikir yang luar biasa. Seperti meminum air laut; semakin diminum, semakin haus, dan akhirnya mematikan.

 

3. Hilangnya Barakah dan Ketenangan Jiwa

 

Pernahkah Anda melihat orang yang berselingkuh benar-benar tenang hidupnya? Tidak akan pernah.

Dalam Islam, dosa adalah noda hitam di hati. Dosa zina (atau mendekati zina) mencabut nur (cahaya) dari wajah dan hati pelakunya.

Secara psikologis, peselingkuh hidup dalam kecemasan kronis. Takut ketahuan, sibuk menghapus chat, berbohong menutupi kebohongan lain. Energi habis hanya untuk bersandiwara.

Secara spiritual, Allah mencabut barakah (keberkahan/kebaikan yang bertambah) dari rezekinya, umurnya, dan keluarganya. Rumah tangga terasa panas, anak-anak menjadi sulit diatur, dan rezeki terasa cepat habis tanpa bekas. Itu adalah dampak dosa yang bekerja dalam senyap.

 

4. Menghancurkan Nasab dan Amanah

 

Bagi seorang Muslim, menjaga keturunan (hifz an-nasl) adalah salah satu tujuan syariat. Perselingkuhan yang berujung pada perzinahan mengacaukan nasab. Bayangkan dosa yang ditanggung jika seorang anak lahir tanpa kejelasan bapak, atau hak waris yang menjadi haram.

Selain itu, pasangan adalah amanah. Mengkhianatinya adalah ciri orang munafik ("Jika diberi amanah, ia khianat"). Apakah kita rela mati dalam keadaan membawa label pengkhianat di hadapan Allah?

 

"Tapi Aku Sudah Terlanjur..."

 

Jika Anda sedang berada di persimpangan jalan ini, atau sudah terlanjur melangkah ke dalamnya, ketahuilah satu hal: Pintu taubat Allah jauh lebih luas daripada dosa Anda, selama nyawa belum sampai di kerongkongan.

Berhenti sekarang juga. Bukan besok, bukan nanti.

Sakitnya memutus hubungan terlarang itu nyata, tapi itu adalah rasa sakit yang menyembuhkan—seperti operasi membuang kanker. Sedangkan "bahagia" dalam perselingkuhan adalah rasa nyaman yang membusukkan—seperti tidur nyenyak di dalam rumah yang terbakar.

Kembalilah. Perbaiki Mitsaqan Ghaliza yang retak itu.

Minta ampun pada Allah (Taubatan Nasuha), dan minta maaf pada pasangan. Kepercayaan yang hancur memang sulit dibangun kembali, tapi dengan pertolongan Allah, tidak ada yang mustahil.

Jangan tukar surga Anda dan keutuhan keluarga Anda hanya demi kesenangan sesaat yang, demi Allah, tidak akan pernah sebanding dengan azab-Nya.

 

Merasa Hampa dalam Pernikahan atau Sulit Lepas dari Godaan?

Terkadang, perselingkuhan adalah gejala dari masalah pribadi atau pernikahan yang tidak terselesaikan. Jangan biarkan diri Anda terperosok lebih dalam.

Pahami Akar Masalah: 

Gunakan Assessmen Jatidiri  untuk memahami kekosongan apa yang sebenarnya Anda rasakan dan karakter diri Anda maupun pasangan.

Cari Bantuan Profesional: 

Jika Anda butuh bimbingan untuk bertaubat, memutus hubungan toksik, atau memulihkan pernikahan yang retak, konsultasikan dengan psikolog atau konselor yang memegang teguh nilai agama di HalloPsy.

Selamatkan diri Anda dan keluarga Anda sekarang.