by Endar Suhendar, M.Pd.

Kenapa Overthinking Susah Berhenti? Ini Jawabannya dari Otak

Kenapa Overthinking Susah Berhenti? Ini Jawabannya dari Otak

Pernah nggak, pikiran muter - muter terus ke hal yang sama? Entah khawatir soal masa depan, atau mengulang kesalahan di masa lalu. Capek, tapi susah berhenti. 

Dalam psikologi, kondisi ini disebut repetitive negative thinking dimana artinya pola berpikir negatif yang berulang. Dua bentuk paling umum adalah worry (khawatir berlebihan tentang masa depan) dan rumination (mengulang pikiran negatif tentang masa lalu).

Menariknya, penelitian terbaru menemukan bahwa otak kita memproses worry dan rumination dengan cara yang hampir sama. Hasil dari penelitian menyatakan saat seseorang overthinking, beberapa bagian otak yang aktif yaitu area yang mengatur tentang diri sendiri, ingatan dan emosi, serta kontrol pikiran. Artinya, walaupun isi pikirannya beda (masa depan vs masa lalu), otak menganggap keduanya sebagai proses yang sama. 

Kenapa Overthinking Terasa Melelahkan?

Penjelasan Overthinking

Saat overthinking, pikiran negatif terus diputar berulang-ulang tanpa jeda, emosi negatif tetap aktif, dan tubuh ikut merespons kondisi tersebut misalnya dengan detak jantung yang meningkat atau tubuh terasa tegang. otak seolah tidak diberi kesempatan untuk beristirahat karena terus memproses hal yang sama.

Jadi, rasa lelah itu bukan karena kamu lemah, melainkan karena sistem otak sedang bekerja terlalu keras dan terlalu lama. Overthinking adalah tanda bahwa pikiranmu kelelahan, bukan tanda kegagalan diri.

Overthinking bukanlah tanda bahwa seseorang terlalu sensitif, dan juga bukan semata-mata karena isi pikirannya yang negatif. Overthinking terjadi karena pola berpikir yang terus berulang dan membuat seseorang terjebak dalam lingkaran pikiran yang sama, sehingga sulit berhenti meskipun sudah merasa lelah.

Oleh karena itu, mengatasi overthinking tidak cukup hanya dengan “berpikir positif”. Yang lebih penting adalah belajar mengenali, mengelola, dan menghentikan pola pikir yang berulang, agar pikiran bisa kembali lebih tenang dan terkendali.

Referensi

Puccetti et al. (2025). Worry and rumination elicit similar neural representations: neuroimaging evidence for repetitive negative thinking. Cognitive, Affective, & Behavioral Neuroscience