by Endar Suhendar, M.Pd.

Selalu Benar, Selalu Hebat, Tapi Selalu Sendirian. Anatomi Jiwa yang Tak Mau Disalahkan

Kita semua punya satu teman (atau atasan, atau kerabat) seperti ini: Setiap kali ada masalah, telunjuknya langsung mengarah ke orang lain. "Ini gara-gara kamu kurang teliti!" "Kalau saja kalian mendengarkan saya dari awal, ini tidak akan terjadi."

Di mata mereka, mereka adalah pusat kebenaran. Mereka harus selalu terlihat paling pintar, paling sukses, dan paling dominan. Kata "maaf" seolah hilang dari kamus mereka, dan kritik dianggap sebagai ajakan perang.

Namun, perhatikan lebih dekat. Di sekeliling "raja" atau "ratu" ini, biasanya sunyi. Orang-orang menjauh bukan karena segan, tapi karena lelah. Mereka mungkin punya pengikut, tapi tidak punya kawan sejati. Mereka punya kekuasaan, tapi tidak punya kehangatan.

Kenapa seseorang memilih hidup di menara gading yang dingin ini? Mari kita bedah lapisan demi lapisan, menggunakan pisau bedah psikologi dan cahaya pandangan Islam.

 

Sudut Pandang Psikologi: Topeng Baja untuk Melindungi Ego Kaca

 

Secara psikologis, perilaku "selalu benar" dan "ingin superior" ini seringkali bukan tanda kekuatan, melainkan tanda kerapuhan ekstrem.

1. Inferiority Complex yang Menyamar (Superiority Complex) Alfred Adler, tokoh psikologi terkenal, menjelaskan bahwa orang yang bertingkah laku superior seringkali sedang menutupi perasaan rendah diri (inferiority) yang mendalam. Mereka merasa kecil, tidak berharga, atau takut tidak dicintai. Untuk menutupi rasa sakit itu, mereka membangun "benteng" arogansi. Mereka menyerang sebelum diserang. Mereka meninggikan diri agar tidak ada yang bisa melihat betapa kecilnya perasaan mereka di dalam.

2. Mekanisme Pertahanan Diri (Defense Mechanism) Bagi mereka, mengakui kesalahan (admitting fault) disamakan dengan kehancuran diri. Ego mereka terlalu rapuh untuk menanggung beban kesalahan. Jadi, otak mereka melakukan distorsi realitas: menyalahkan orang lain (proyeksi) atau menyangkal fakta (denial). Ini adalah cara mereka bertahan hidup secara emosional.

3. Ketidakmampuan Berempati (Ciri Narsistik) Seringkali, ini adalah gejala dari spektrum narsistik. Mereka melihat orang lain bukan sebagai mitra, melainkan sebagai alat untuk validasi atau saingan yang harus dikalahkan. Karena fokus utamanya adalah "Aku", tidak ada ruang tersisa untuk memahami perasaan "Kamu". Akibatnya? Orang lain merasa tidak dihargai dan perlahan pergi.

 

Sudut Pandang Islam: Penyakit Hati Bernama Takabur dan Ujub

 

Islam memandang perilaku ini sebagai penyakit hati yang sangat serius. Bukan hanya merusak hubungan sosial (Hablum minannas), tapi juga memutus hubungan dengan Allah (Hablum minallah).

1. Definisi Sombong (Kibr/Takabur) Rasulullah SAW bersabda dengan sangat spesifik: "Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." (HR. Muslim). Orang yang tidak mau disalahkan masuk dalam kategori menolak kebenaran. Orang yang selalu ingin superior masuk dalam kategori meremehkan manusia. Ini adalah dosa iblis yang pertama; merasa "Aku lebih baik darinya" (Ana khairun minhu).

2. Bahaya Ujub (Kagum pada Diri Sendiri) Sebelum sombong keluar dalam tindakan, ia bermula dari Ujub—merasa diri suci, hebat, dan bersih dari dosa. Ujub membutakan mata hati. Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa ujub membuat seseorang lupa bahwa segala kelebihan adalah titipan Allah, bukan hasil hebatnya diri sendiri.

3. Hukuman Sosial dan Spiritual Dalam Islam, orang yang sombong akan dijauhkan dari hati manusia lainnya. Allah mencabut rasa kasih sayang dari wajah dan hatinya, sehingga ia hidup dalam keterasingan. "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan."

 

Jalan Keluar: Menghancurkan Menara, Membangun Jembatan

 

Jika Anda melihat ciri ini pada diri sendiri (atau orang terdekat), ketahuilah bahwa ada jalan pulang. Kesepian itu adalah sinyal bahwa jiwa Anda merindukan koneksi, bukan dominasi.

1. Terapi Psikologis: Vulnerability is Strength Pahami bahwa mengakui kesalahan bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kekuatan mental yang dewasa. Orang kuat berani bilang, "Maaf, aku salah. Aku akan perbaiki." Latihlah kerentanan (vulnerability). Cobalah untuk jujur mengenai ketakutan dan kekurangan Anda pada satu orang yang Anda percaya. Anda akan terkejut melihat bahwa orang justru akan lebih menghargai Anda saat Anda menjadi manusia biasa, bukan "dewa" yang sempurna.

2. Terapi Islam: Konsep Tawadhu (Rendah Hati) Obat dari sombong adalah Tawadhu. Sadari asal penciptaan kita: dari tanah, dan akan kembali menjadi tanah. Apa yang mau disombongkan? Latih tawadhu dengan tindakan nyata:

Jadilah orang pertama yang mengucapkan salam.

Dengarkan orang lain sampai tuntas tanpa memotong.

Bergaullah dengan orang-orang yang "di bawah" Anda secara status sosial.

Perbanyak Istighfar, karena itu mengikis kerak ujub di hati.

3. Ubah "Ingin Menang" menjadi "Ingin Mengerti" Dalam setiap konflik, tanyakan pada diri sendiri: "Apakah aku mau menang debat ini dan kehilangan teman, atau aku mau mengalah sedikit demi mempertahankan persaudaraan?" Kemenangan ego hanya bertahan 5 menit, tapi kehilangan kawan bisa bertahan seumur hidup.

 

Turunlah ke Bumi

 

Menjadi superior di puncak gunung memang membuat Anda terlihat besar, tapi itu juga membuat orang lain terlihat kecil di mata Anda, dan Anda terlihat kecil di mata mereka. Dan yang paling menyedihkan: di puncak itu dingin dan sepi.

Turunlah. Membumilah. Akui kesalahan. Minta maaf. Menangis jika perlu. Di situlah Anda akan menemukan bahwa menjadi manusia biasa yang tidak sempurna jauh lebih membahagiakan dan dicintai daripada menjadi "sosok sempurna" yang sendirian.

 

Merasa "Tersindir" atau Mengenal Seseorang Seperti Ini?

 

Seringkali, sifat defensif dan arogansi berakar dari luka masa kecil atau pola asuh yang membentuk karakter tersebut tanpa disadari. Kita tidak tahu kenapa kita begitu takut terlihat salah.

Cek Akar Karakter Anda: 

Ikuti Assessmen Jatidiri di Jatidiri.app untuk membedah kepribadian Anda. Apakah dominasi Anda berasal dari bakat kepemimpinan yang salah arah, atau dari rasa insecure yang terpendam?

Diskusikan Luka Batin: 

Jika arogansi ini sudah menghancurkan karier atau rumah tangga Anda, jangan tunggu sampai semua orang pergi. Bicaralah dengan psikolog di HalloPsy. Temukan cara untuk berdamai dengan ketidaksempurnaan diri di ruang yang aman dan rahasia.

Jadilah hebat tanpa harus merendahkan. Jadilah benar tanpa harus menyalahkan.