Kriteria untuk Mendiagnosis ADHD
Kriteria untuk Mendiagnosis ADHD
Ketika seseorang mulai mencurigai bahwa dirinya, anaknya, atau orang terdekatnya mungkin mengalami gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (Attention Deficit Hyperactivity Disorder/ADHD) yang belum tertangani, pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana cara memastikan diagnosis tersebut. Jawabannya terletak pada kriteria klinis yang telah ditetapkan secara resmi.
Berdasarkan Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental edisi kelima (DSM-5), terdapat pedoman khusus yang digunakan oleh tenaga profesional untuk menegakkan diagnosis ADHD. DSM-5 menjadi acuan utama dalam praktik klinis kesehatan mental, termasuk untuk membedakan ADHD dari kondisi lain yang memiliki gejala serupa. Meskipun tes mandiri atau pemeriksaan laboratorium tertentu dapat membantu proses penilaian, metode tersebut tidak cukup untuk memastikan diagnosis tanpa evaluasi profesional.
Pentingnya Pemeriksaan oleh Profesional
Diagnosis ADHD tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan satu tes atau observasi singkat. Tenaga kesehatan akan melakukan wawancara mendalam, pengamatan perilaku, serta pemeriksaan fisik untuk memastikan apakah gejala yang muncul benar-benar sesuai dengan kriteria ADHD. Prosedur penilaian ini dapat sedikit berbeda antara anak-anak dan orang dewasa, menyesuaikan dengan tahap perkembangan dan tuntutan kehidupan sehari-hari.
Dalam prosesnya, profesional kesehatan mental menggunakan kriteria dari DSM-5 sebagai standar evaluasi. Pedoman ini dikembangkan oleh American Psychiatric Association (APA) dan digunakan secara luas untuk memastikan diagnosis yang akurat serta penanganan yang tepat.
Menentukan Penyedia Layanan Kesehatan yang Tepat
Bagi orang dewasa yang ingin menjalani skrining ADHD, pemeriksaan dapat dilakukan oleh psikolog klinis, psikiater, dokter saraf, dokter layanan primer, atau pekerja sosial berlisensi. Sementara itu, anak-anak dan remaja usia 4 hingga 18 tahun umumnya diperiksa oleh dokter anak, psikiater anak, atau psikolog anak yang memiliki kompetensi dalam diagnosis gangguan perkembangan.
Kriteria DSM-5 untuk Diagnosis ADHD
Menurut DSM-5, ADHD ditandai oleh pola menetap berupa kesulitan memusatkan perhatian dan/atau perilaku hiperaktif-impulsif yang mengganggu fungsi sehari-hari. Untuk anak hingga usia 16 tahun, diagnosis umumnya memerlukan sedikitnya enam gejala kurang perhatian dan/atau hiperaktivitas-impulsivitas. Sementara itu, remaja usia 17 tahun ke atas dan orang dewasa perlu menunjukkan minimal lima gejala.
Gejala tersebut harus berlangsung setidaknya selama enam bulan, muncul tidak sesuai dengan tahap perkembangan individu, dan berdampak nyata pada kehidupan akademik, pekerjaan, maupun hubungan sosial.
Gejala Kurang Perhatian
Gejala kurang perhatian dapat terlihat melalui perilaku seperti sering lalai terhadap detail, kesulitan mempertahankan fokus, tampak tidak mendengarkan saat diajak bicara, serta kesulitan menyelesaikan tugas. Individu juga dapat mengalami masalah dalam mengatur aktivitas, cenderung menghindari tugas yang membutuhkan konsentrasi jangka panjang, sering kehilangan barang penting, mudah teralihkan, dan kerap lupa menjalankan aktivitas sehari-hari.
Gejala Hiperaktivitas dan Impulsivitas
Sementara itu, hiperaktivitas dan impulsivitas dapat ditandai dengan perilaku gelisah, sulit duduk diam, sering bergerak di situasi yang menuntut ketenangan, kesulitan bermain dengan tenang, berbicara berlebihan, serta menjawab pertanyaan secara impulsif sebelum selesai diajukan. Kesulitan menunggu giliran dan kebiasaan menyela pembicaraan juga termasuk dalam kategori ini.
Selain memenuhi jumlah gejala, tenaga kesehatan juga harus memastikan bahwa tanda-tanda tersebut sudah muncul sebelum usia 12 tahun, terjadi di lebih dari satu lingkungan (misalnya rumah dan sekolah), mengganggu fungsi kehidupan, serta tidak lebih baik dijelaskan oleh kondisi medis atau psikologis lain.
Diagnosis ADHD pada Anak
Untuk anak-anak, proses diagnosis melibatkan pengumpulan informasi dari berbagai sumber. Tenaga kesehatan akan mewawancarai orang tua atau wali, guru, serta profesional lain yang terlibat dalam kehidupan anak. Gejala kemudian dievaluasi menggunakan alat bantu seperti skala penilaian perilaku yang disesuaikan dengan kriteria DSM-5.
Pemeriksaan fisik dan tes penunjang juga dapat dilakukan untuk menyingkirkan kondisi lain dengan gejala serupa, seperti gangguan tiroid, gangguan tidur, epilepsi, atau paparan timbal. Selain itu, skrining tambahan sering dilakukan untuk mendeteksi kondisi yang kerap menyertai ADHD, seperti depresi, kecemasan, gangguan belajar, gangguan spektrum autisme, hingga gangguan perilaku.
Diagnosis ADHD pada Orang Dewasa
Pada orang dewasa, proses diagnosis relatif serupa. Profesional kesehatan akan menggali riwayat gejala sejak masa kanak-kanak hingga kondisi saat ini. Penilaian dilakukan dengan bantuan kriteria DSM-5, skala penilaian perilaku, dan dalam beberapa kasus, wawancara dengan pasangan atau anggota keluarga dekat.
Pemeriksaan fisik tetap diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab medis lain. Selain itu, skrining terhadap gangguan kesehatan mental yang sering muncul bersamaan—seperti gangguan kecemasan, gangguan suasana hati, atau gangguan kepribadian—juga menjadi bagian penting dari evaluasi.
Di akhir proses, tenaga kesehatan akan menjelaskan hasil diagnosis, kemungkinan kondisi penyerta, serta mendiskusikan pilihan penanganan atau rujukan lanjutan bila diperlukan.
Peran Tes Laboratorium dan Penilaian Mandiri
Hingga saat ini, standar emas diagnosis ADHD tetap berupa wawancara klinis dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan pencitraan otak seperti MRI, CT scan, atau PET scan tidak dapat digunakan sebagai alat diagnosis tunggal. Namun, tes darah, EEG, atau pemeriksaan lainnya kadang direkomendasikan untuk menyingkirkan kondisi medis tertentu.
Sementara itu, tes ADHD daring atau penilaian mandiri dapat membantu meningkatkan kesadaran awal, tetapi tidak dapat menggantikan diagnosis profesional. Penilaian tersebut sebaiknya hanya digunakan sebagai langkah awal untuk mempertimbangkan konsultasi dengan tenaga kesehatan yang kompeten dan berlisensi.
Referensi
- Krouse, L. ADHD Criteria for Diagnosis. (2025).
- Hollingdale J, Adamo N, Tierney K. Impact of COVID-19 for people living and working with ADHD: A brief review of the literature. AIMS Public Health. 2021;8(4):581-597. doi:10.21037/tp.2019.09.08
- Koutsoklenis A, Honkasilta J. ADHD in the DSM-5-TR: What has changed and what has not. Front Psychiatry. 2023;13:1064141. doi:10.3389/fpsyt.2022.1064141
- Centers for Disease Control and Prevention. Symptoms and diagnosis of ADHD.
- National Institute of Mental Health. National Institutes for Health. Attention-deficit/hyperactivity disorder in children and teens: what you need to know. (2024)
- Children and Adults with Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (CHADD) National Resource Center on ADHD. Diagnosis of ADHD in Adults.