Obat ADHD untuk Anak: Hal Penting yang Perlu Orang Tua Ketahui
Obat ADHD untuk Anak: Hal Penting yang Perlu Orang Tua Ketahui
Gangguan defisit perhatian hiperaktif atau ADHD adalah kondisi perkembangan saraf yang cukup sering terjadi pada anak. Kondisi ini mempengaruhi kemampuan anak dalam memusatkan perhatian, mengendalikan impuls, dan mengatur aktivitas. Dampaknya bisa terasa di berbagai aspek kehidupan, terutama di sekolah, aktivitas sehari-hari, dan hubungan sosial.
Penanganan ADHD pada anak tidak hanya mengandalkan obat. Biasanya, pendekatan yang digunakan adalah kombinasi pengobatan, terapi perilaku, dan dukungan pendidikan, disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak.
Pendekatan Pengobatan ADHD pada Anak
Penanganan ADHD pada anak biasanya tidak hanya mengandalkan satu metode. Pendekatan yang umum digunakan adalah kombinasi antara pengobatan medis, terapi perilaku, dan dukungan edukasi. Obat memang sering menjadi bagian penting dari terapi, tetapi bukan satu-satunya solusi.
Berdasarkan data National Survey of Children's Health (NSCH), usia rata-rata anak mulai terdiagnosa ADHD adalah sekitar 6 tahun. Anak dengan gejala berat cenderung terdiagnosis lebih dini, sedangkan anak dengan gejala ringan biasanya baru terdeteksi saat memasuki usia sekolah.
Untuk anak di bawah usia 6 tahun, dokter umumnya akan merekomendasikan pelatihan orang tua dalam mengelola perilaku anak sebagai langkah awal, sebelum mempertimbangkan pemberian obat. Sementara itu, untuk anak usia 6 tahun ke atas, kombinasi antara obat dan terapi perilaku sering kali menjadi pilihan utama.
Gejala dan Jenis ADHD pada Anak
Gejala ADHD pada anak dapat muncul dalam beberapa bentuk utama, antara lain:
- Kurang perhatian, seperti sulit fokus, mudah terdistraksi, sering lupa, dan kesulitan menyelesaikan tugas.
- Hiperaktivitas, misalnya sulit diam, sering bergerak tanpa tujuan, banyak bicara, atau gelisah.
- Impulsivitas, yaitu bertindak tanpa berpikir, sulit menunggu giliran, dan sering menyela pembicaraan orang lain.
Berdasarkan gejala yang dominan, ADHD dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
- 1. Tipe kurang perhatian
- 2. Tipe hiperaktif-impulsif
- 3. Tipe gabungan, yang menunjukkan kombinasi dari ketiga gejala tersebut
Obat Stimulan: Pilihan Utama dalam Pengobatan ADHD
Obat stimulan sering menjadi pilihan pertama dalam pengobatan ADHD pada anak. Meski terdengar kontradiktif, obat ini justru membantu menenangkan anak dan meningkatkan kemampuan fokus. Stimulan bekerja dengan meningkatkan kadar dopamin dan norepinefrin di otak, yaitu zat kimia yang berperan penting dalam perhatian, motivasi, dan kontrol perilaku.
Stimulan dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu amfetamin dan metilfenidat. Kedua jenis ini tersedia dalam bentuk kerja pendek dan kerja panjang, sehingga dokter dapat menyesuaikan dengan kebutuhan anak.
Stimulan Kerja Pendek dan Kerja Panjang
- Stimulan kerja pendek bekerja cepat tetapi hanya bertahan beberapa jam, sehingga perlu diminum beberapa kali dalam sehari.
- Stimulan kerja panjang cukup diminum sekali sehari dan efeknya dapat bertahan hingga seharian, sehingga lebih praktis, terutama untuk anak usia sekolah.
Pemilihan jenis obat ini sangat bergantung pada respons anak, jadwal aktivitas, serta efek samping yang mungkin muncul.
Obat Amfetamin untuk ADHD
Contoh obat berbasis amfetamin yang sering diresepkan antara lain Adderall, Adderall XR, dan Vyvanse. Obat-obatan ini telah disetujui oleh FDA untuk pengobatan ADHD pada anak dan dewasa.
Adderall kerja pendek biasanya diberikan dalam dosis kecil terlebih dahulu, lalu dinaikkan secara bertahap hingga mencapai dosis yang efektif. Sementara itu, Adderall XR dan Vyvanse dirancang untuk bekerja lebih lama, sehingga cukup diminum sekali sehari.
Meski efektif, obat amfetamin memiliki risiko penyalahgunaan dan ketergantungan. Oleh karena itu, penggunaannya harus berada di bawah pengawasan ketat tenaga kesehatan.
Efek Samping Stimulan Amfetamin
Efek samping yang umum terjadi antara lain:
- Penurunan nafsu makan.
- Berat badan menurun.
- Sulit tidur.
- Sakit kepala.
- Jantung berdebar.
- Kecemasan.
Pada kasus tertentu, dapat muncul efek samping serius seperti gangguan jantung, kejang, atau reaksi alergi berat. Anak yang mengkonsumsi stimulan juga perlu dipantau pertumbuhannya secara rutin.
Obat Metilfenidat untuk ADHD
Selain amfetamin, metilfenidat juga banyak digunakan untuk mengobati ADHD. Contohnya adalah Ritalin, Focalin, dan Concerta. Obat ini bekerja dengan mekanisme yang mirip, yaitu membantu meningkatkan fokus dan mengurangi impulsivitas.
Metilfenidat tersedia dalam bentuk kerja pendek maupun kerja panjang. Concerta, misalnya, dirancang untuk bekerja sepanjang hari dan diminum satu kali setiap pagi.
Efek samping metilfenidat mirip dengan amfetamin, seperti penurunan nafsu makan, gangguan tidur, dan sakit kepala. Oleh karena itu, pemantauan rutin tetap diperlukan.
Pilihan Obat Non-Stimulant
Bagi anak yang tidak cocok dengan stimulan atau mengalami efek samping yang mengganggu, tersedia obat non-stimulan sebagai alternatif. Obat jenis ini biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk menunjukkan efek, tetapi tetap efektif bagi sebagian anak.
Beberapa obat non-stimulan yang umum digunakan antara lain:
- Strattera. Mengandung bahan aktif atomoxetine. Obat ini telah disetujui oleh FDA untuk mengobati ADHD pada orang dewasa dan anak-anak usia 6 tahun ke atas. Strattera diberikan dalam bentuk kapsul yang diminum secara oral dengan pelepasan segera (IR).
Efek samping umum yang dapat muncul saat menggunakan Strattera meliputi:
Masalah pada saluran pencernaan, seperti mual, muntah, sakit perut, dan sembelit, penurunan nafsu makan, rasa lelah atau lesu, mulut kering, pusing.
- Onyda XR. Mengandung klonidin dengan formulasi lepas lambat (ER). Obat ini telah disetujui oleh FDA untuk mengobati ADHD, baik digunakan sendiri maupun dikombinasikan dengan obat stimulan. Onyda XR dapat digunakan pada anak-anak dan orang dewasa usia 6 tahun ke atas. Obat ini berbentuk cairan yang diminum satu kali sehari, biasanya sebelum tidur.
Efek samping umum yang dapat muncul saat menggunakan Onyda XR antara lain:
Rasa lelah atau lesu, mudah marah, mimpi buruk, kesulitan tidur, sembelit, mulut kering, penurunan nafsu makan, pusing.
- Intuniv (guanfacine ER). Mengandung guanfacine dalam bentuk lepas lambat (ER). Obat ini telah disetujui oleh FDA untuk mengobati ADHD, baik digunakan sendiri maupun dikombinasikan dengan obat stimulan. Intuniv dapat digunakan pada anak-anak dan remaja usia 6 hingga 17 tahun. Obat ini tersedia dalam bentuk tablet lepas lambat yang diminum melalui mulut.
Efek samping umum yang dapat terjadi saat menggunakan Intuniv meliputi:
Tekanan darah rendah (hipotensi), rasa lelah atau lesu, masalah pencernaan, seperti mual, muntah, dan nyeri perut, kesulitan tidur, pusing, mulut kering, detak jantung lebih lambat dari normal (bradikardia)
- Qelbree (viloxazine ER). Mengandung viloxazine dalam bentuk lepas lambat (ER). Obat ini telah disetujui oleh FDA untuk mengobati ADHD pada orang dewasa dan anak-anak usia 6 tahun ke atas. Qelbree diberikan dalam bentuk kapsul lepas lambat yang diminum melalui mulut.
Obat-obatan ini bekerja dengan cara yang berbeda dari stimulan dan cenderung memiliki risiko penyalahgunaan yang lebih rendah. Namun, tetap ada efek samping seperti kelelahan, pusing, gangguan tidur, atau masalah pencernaan.
Efek samping umum yang dapat muncul saat menggunakan Qelbree meliputi:
Rasa lelah atau lesu, penurunan nafsu makan, mual dan muntah, kesulitan tidur, mudah marah atau sensitif, sakit kepala, mulut kering, sembelit
Penutup
Pengobatan ADHD pada anak bukanlah proses yang instan. Setiap anak memiliki respons yang berbeda terhadap obat, sehingga dibutuhkan waktu, kesabaran, dan kerja sama antara orang tua, anak, serta tenaga kesehatan. Obat dapat membantu mengendalikan gejala, tetapi hasil terbaik biasanya diperoleh ketika pengobatan dikombinasikan dengan terapi perilaku dan dukungan lingkungan yang tepat.
Jika orang tua memiliki kekhawatiran terkait ADHD atau pengobatannya, sangat disarankan untuk berkonsultasi langsung dengan dokter atau tenaga kesehatan profesional agar anak mendapatkan penanganan yang paling sesuai dengan kebutuhannya.
Referensi
PharmD, K. ADHD Medications for Children: What to Know. (2025)
National Institute on Drug Abuse. Drug overdose drug rates. (2024)
Cortese S, Adamo N, Del Giovane C, et al. Comparative efficacy and tolerability of medications for attention-deficit hyperactivity disorder in children, adolescents, and adults: A systematic review and network meta-analysis. Lancet Psychiatry. 2018;5(9):727-738. doi:10.1016/S2215-0366(18)30269-4
U.S. Food & Drug Administration. Treating and dealing with ADHD.
United States Drug Enforcement Administration. Drug scheduling.
PharmD, K. ADHD Medications for Children: What to Know. (2025)